Kosong
Rabu, 18 Desember 2013
Matius 1: 18-24
Seorang guru Zen bernama Nan-in yang hidup pada masa pemerintahan kaisar Meiji di Jepang, suatu ketika membuat seorang profesor yang ingin berguru kepadanya terpaku keheranan dengan tindakannya. Nan-in menuangkan teh ke dalam cangkir hingga penuh, tetapi ia terus menuangkannya hingga luber dan tumpah.
Sesaat kemudian sang profesor mengingatkan sang guru akan kecerobohannya. Tetapi ia terperangah mendengarkan jawaban guru Zen, “sama seperti cangkir ini, engkau datang kemari dengan kepala penuh gagasan dan pikiran. Bagaimana aku dapat mengajarimu Zen kalau engkau tidak mengosongkan pikiranmu terlebih dahulu?”
Terkadang hidup kitapun sama seperti professor tadi. Kita ingin mengungkapkan Tuhan yang sedemikian besar dan memasukkannya dalam pikiran kita yang sedemikian sempit. Kita mungkin bertanya-tanya “Apakah mungkin Bunda Maria mengandung Yesus yang adalah Putra Allah tanpa perantaraan seorang laki-laki”? Dan mungkin kita masih punya banyak pertanyaan lain tentang Tuhan dalam pikiran kita yang sempit. Dalam hal ini kita perlu meniru Bunda Maria. Ia mau mengosongkan dirinya dari ego-nya sendiri. Dengan mengosongkan ego-nya ia memberi kesempatan kepada Tuhan untuk tinggal dan hidup dalam dirinya. Adven adalah masa yang sungguh agung untuk menyambut kedatangan Tuhan. Maka dari itu kitapun perlu mengosongkan sebagian dari diri kita agar Tuhan sungguh hadir dan menguasai diri kita. Kita perlu menyediakan “sebuah ruang kosong” dalam keluarga kita agar Tuhan sungguh-sungguh dapat hadir dan tinggal bersama kita. Semoga Tuhan memberkati kita. Amin. (Sulistya)