Permukaan

Bacaan I: Galatia 5:1-6
Bacaan Injil : Lukas 11:37-41
Seorang guru muda berbagi suka duka mengajar di daerah asalnya di pulau Bangka dalam kesempatan ngobrol santai sambil ngopi menjelang wisuda program Masternya di USD Yogya. Tidak mudah memasuki dunia kerja pendidikan dengan bermodal ijasah Sarjana Sastra. Sebagian rekan guru memandangnya dengan sebelah mata karena tak adanya formasi khusus yang diterimanya dalam pedagogi, ilmu mendidik. Mereka lupa, pedagogi adalah juga seni, dan dalam seni unsur kreativitas memberi ruang belajar sangat luas melalui refleksi atas pengalaman.
Sang guru muda yang passionate dengan dunia anak-anak SD ini terkejut dengan tantangan yang diterimanya saat menerima tugas mengajar pertamanya: ia diberi tanggung jawab menangani kelas dengan anak-anak yang paling sulit diatur, disaster class full of monsters, dan biasa dituruti kemauannya oleh para guru lain. Saat ia mencoba menegakkan disiplin, seorang anak bahkan berani menantang mengancam: orang tuanya yang kaya cukup punya kuasa untuk membuat kehadiran Sang Guru di sekolah itu tidak berlangsung lama.
Aku tidak hendak pasrah mengikuti tarian mereka yang menghancurkan kebisaan mereka belajar dengan baik dan benar, pikir Sang Guru, setelah berhari mengajar bercucur air mata dalam kegundahan bingung mau bertindak bagaimana. Dengan tegas suatu hari ia mulai menyatakan sikap: ini kelas saya, ikuti aturan saya, atau kamu keluar. Kalau orang tuamu keberatan, silahkan datang dan saya akan layani berbincang tentang apa yang terbaik untukmu dan teman-temanmu di kelas. Kalau mau lapor ke kepala sekolah, juga silhakan karena saya yakin saya benar. Berikutnya, Sang Guru juga belajar bahwa ia bisa mengendalikan kelas dengan lebih baik dengan memberi cukup tugas yang menyibukkan anak-anak pandai yang hiper aktif di kelas tersebut. Setiap protes tentang jumlah latihan yang banyak dijawab dengan menambah lagi jumlah tugas yang ada, hingga anak-anak berhenti mengeluh dan mulai diam menekuni pelajaran mereka. Anak-anak Bangka ini, perlu diajar dengan tegas di kelas, tidak bisa diperlakukan seperti anak-anak di Jawa, katanya. Aku tahu, karena aku juga asli Bangka, tidak seperti beberapa guru yang datang dari Jawa. Kelas yang tiba-tiba menjadi sering hening dengan anak-anak sibuk belajar membuat Kepala Sekolah datang memeriksa keheranan. Dengan cepat reputasinya menyebar: Ibu Guru yang galak, suka menindas murid. Toh para guru lain juga keheranan mengakui, ia dicintai para muridnya yang suka bercanda menggodanya di luar kelas.
Sebuah gunung es hanya menampakkan sedikit saja eksistensinya di permukaan. Penilaian yang sembrono atasnya bisa mendatangkan bencana mematikan sebagaimana karamnya kapal Titanic yang menabrak punggung gunung es di bawah permukaan laut. Kemampuan memandang yang serba terbatas itu juga dikecam Yesus menghadapi para pengkritiknya yang mempersoalkan cuci tangan sebagai sebuah ritual kebersihan fisik, tetapi mengabaikan kebersihan batin yang lebih penting dan mendalam, yang dikotori sikap serba curiga dan penuh prasangka. Aturan, kebiasaan, tradisi, pada akhirnya mengabdi pada yang esensi, yang hakiki. Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat (Mark 2:27). Beriman yang sungguh juga mengandaikan ketersediaan untuk terbuka dan percaya, meski sikap naif perlu dihindarkan. Menilai satu sama lain adalah bagian kodrat kita, menilai dengan hati-hati dan bijaksana adalah pilihan orang yang matang dan dewasa.