Memilih Pemimpin

Bacaan: Timotius 2:7-8
Jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.
Tepat pukul 7 pagi hari ini, di Aula Paroki St. Jerome tempat saya tinggal dipakai untuk tempat pemilihan. Berduyun-duyun orang Amerika datang untuk memilih calon presiden baru, Hillary atau Trump. Sejak 2 minggu lalu sudah ada lebih dari 21 juta orang memilih dan mengirim via pos. New York Times menganalisa kalau Trump mendapat dukungan banyak dari sekitar 28 juta (57%) orang putih Amerika yang bependidikan tak sampai perguruan tinggi. Sedangkan Hillary hanya mendapat 29% suara dari pemilih orang putih yang berpendidikan tak sampai college.
Sampai detik akhir ini masih ada 11 juta orang belum menentukan sikapnya akan memilih siapa. “Betapa sulitnya pilihan presiden kali ini, tak ada yang bisa diteladani dan tidak jujur” kata seorang calon pemilih. Jujur, berintegritas, bisa diteladan, serta mendahulukan kepentingan orang banyak adalah kriteria yang dicari dari seorang pemimpin.
Betapa bedanya dengan keadaan di Jakarta 4 Nov yang lalu. Jelas-jelas kita memiliki seorang gubernur yang jujur dan berintegritas, tapi masih ada sebagian orang tak bisa menerimanya. Demontrasi itu melukiskan kalau kepetingan politik dan kekuasaan sesaat lebih dicari orang, lalu berusaha dengan cara kotor menyingkirkan pemimpin yang ada dengan alasan apapun.
Kita sadar kalau sebagian besar para pemilih di negara kita masih kurang kritis, mudah diberdayakan dengan alasan tertentu. Semoga anda yang punya hak pilih bisa menentukan pilihan pada pemimpin yang baik, jujur, beritegritas, tak bercela sehingga kita memiliki pemimpin yang bisa mendahulukan kepentingan orang banyak.