Mengapa Yesus Memerlukan Para Murid-Nya?
Mengapa Yesus Memerlukan Para Murid-Nya?
Peringatan Santo Fransiskus Xavier
3 Desember 2016
Matius 9:35B-10:1,5a,6-8
“Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus… (Mat 10:5)”
Apakah kita pernah bertanya mengapa Yesus perlu ‘merekrut’ para murid-murid-Nya? Dia bisa menyembuhkan orang sakit, mengandakan roti bagi yang lapar, mengusir setan, menenangkan badai, dan bahkan membangkitkan orang mati, tetapi mengapa Dia tetap memilih beberapa orang untuk menjadi rekan kerja-Nya? Singkatnya, jika Dia adalah Tuhan yang mahakuasa, mengapa Dia masih meminta bantuan manusia dalam menjalankan misi-Nya?
St. Agustinus menjelaskan misteri iman kita ketika ia berkata, “Tuhan menciptakan kita tanpa kita: tetapi ia tidak berkehendak untuk menyelamatkan kita tanpa kita.” Dengan kata lain, Yesus ingin kita juga berpartisipasi dalam misi menyelamatkan-Nya. Mengapa? Kita bisa melacak jawaban dari identitas Allah kita. St. Yohanes mengatakan bahwa Allah adalah kasih. Hanya kasih sejati yang memberi kita kebebasan yang otentik. Kasih sejati memberdayakan dan memampukan kita untuk tumbuh dan akhirnya berdiri pada kaki kita sendiri. John Maxwell, seorang guru kepemimpinan, berkata bahwa seorang pemimpin sejati akan ‘menambah nilai’ bagi rekan kerja sehingga mereka dapat mencapai potensi maksimal mereka.
Seandainya Yesus melakukan segala sesuatu sendiri, manusia akan tetap dalam keadaan kekanak-kanakan yang permanen. Kita tidak pernah tahu arti kasih, pengorbanan dan komitmen yang sesungguhnya. Ini bukan kasih sejati. Yesus memanggil murid-murid bukan untuk menjadi murid selamanya, tetapi mereka akan menjadi rasul, seseorang yang diutus dengan misi. Dengan demikian, Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa ia akan menjadi penjala manusia.
Yesus mengundang para murid-Nya untuk menjalani masa ‘formasi’, dan sering menjadi bagian dari pelatihan ini adalah pengalaman rasa sakit, kehilangan dan kegagalan. Puncak dari pengalaman ini adalah penderitaan dan kematian Yesus di Kalvari. Murid-murid percaya bahwa Yesus akan menjadi raja politik baru dari orang-orang Yahudi. Tapi, semua impian mereka tiba-tiba hancur ketika Yesus ditangkap, disiksa dan disalibkan seperti penjahat hina lainnya. Namun, ini juga bagian dari pembentukan mereka. Sang Guru yang baik mengizinkan itu terjadi sehingga Dia sekali lagi akan bisa ditemukan, sepenuhnya hidup dan segar. Dalam kebangkitan-Nya, Dia menyembuhkan dan membuat kembali utuh hati murid-murid-Nya. Mereka telah dibebaskan ketidakdewasaan mereka dan siap untuk mengemban misi Guru mereka dan menjadikan sebagai milik mereka.
Yesus mengasihi kita. Itulah sebabnya Dia memanggil kita, menjadikan kita murid-Nya melalui proses yang tidak mudah dan mengubah kita menjadi serupa dengan-Nya. Sekarang, giliran kita untuk mengasihi dan memberdayakan sesama kita seperti halnya yang Yesus telah lakukan.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP