Manusia Berencana, Tuhan Tertawa

Manusia Berencana, Tuhan Tertawa

Sabtu, 24 Desember 2016

2 Samuel 7:1-5, 8-12, 14, 16
Mazmur 89
Lukas 1:67-79

Sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan yang sangat terkenal di Indonesia saat ini menggunakan kata “pembela” dalam namanya, seolah-olah sebuah agama atau Allah memerlukan pembelaan oleh manusia. Dalam bacaan dari Kitab Samuel hari ini, kita pun membaca atau mendengar bagaimana Raja Daud mau “membela” Allah. Ia kasihan karena tabut perjanjian ditempatkan dalam tenda sederhana sedangkan dia tinggal di dalam istana yang mewah. Karena itu ia berjanji akan menempatkan tabut perjanjian di tempat yang lebih layak.

Kita sering mendengar pepatah, “Manusia berencana, Tuhan menentukan.” Hari ini mungkin lebih tepat pepatah itu diubah menjadi, “Manusia berencana, Tuhan tertawa.” Reaksi Allah akan keprihatinan Daud terdengar seperti menertawakan usaha Daud. Seolah-olah Tuhan berkata padanya, “Kamu mau membuatkan aku rumah? Padahal aku lah yang menyelamatkan umat Israel, yang memberikan tanah terjanji pada mereka, yang mengalahkan musuh mereka…” dan seterusnya.

Terkadang kita manusia merasa lebih hebat dari Dia yang menciptakan kita. Masalah ini sudah ada sejak orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. Kita ingin mengambil kendali dari Tuhan, ingin menentukan jalan hidup kita sendiri. Bukannya kita merasa diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah, justru kita ingin menganggap Tuhan sesuai dengan gambar dan rupa sekehendak kita.

Seperti kidung Zakariah dalam Injil hari ini, dunia dijanjikan oleh Allah bahwa akan datang seorang Mesias yang akan menyelamatkan umat manusia, yang akan menghapus dosa, yang akan menjadi terang dalam kegelapan dan lembah kematian, yang akan membawa kita pada damai sejati. Bayangkan orang macam apa Sang Mesias yang begitu dahsyat kekuatannya. Tentu dia akan datang dari keluarga kerajaan karena dia keturunan Daud. Pasti dia lahir di sebuah istana. Pasti dia akan menjadi raja bangsa Israel yang mempunyai balatentara untuk menghancurkan semua musuh.

Bayangan itu terbukti salah total. Dia lahir tidak di istana, tapi di sebuah kandang binatang. Dia tidak memiliki singgasana atau balatentara di dunia. Dan dia mati sengsara seperti layaknya seorang penjahat. Inilah Penyelamat kita, yang rela mengosongkan dirinya dan meninggalkan kedudukannya sebagai Allah untuk menjadi manusia dan hamba seperti kita.

Malam ini, ketika kita memulai perayaan Natal kita, hendaknya kita diingatkan kembali akan makna mendalam dari kedatangan Yesus sebagai manusia yang begitu sederhana dan lemah lembut. Di dalam diri dan hidup Yesus lah kita bisa berkaca bagaimana kita sepantasnya hidup sebagai hamba dan ciptaan Allah. Bukan dengan kekuatan dan kekayaan. Bukan dengan mau memegang kendali atas semua hal dalam hidup kita. Tapi hanya dengan ketaatan dan kesediaan untuk melakukan kehendak Bapa di surga, yang memegang rancangan yang jauh lebih besar dari rancangan kita.

Semoga Natal tahun ini membawa anda semua kebahagiaan dan kedamaian, karena Tuhan beserta kita. Emmanuel!

Comments are closed.
Translate ยป