Tahir
Bacaan I : Ibr. 3:7-14
Bacaan Injil : Mrk. 1:40-45
Dalam masyarakat tradisional yang cukup maju, berkembang etiket, sopan santun yang dinyatakan dalam cara-cara bertutur kata, berpakaian, bersantap resmi dan sebagainya. Orang yang berasal dari luar budaya tersebut diharapkan memperhatikan, menghormati dan menyesuaikan diri jika masuk dalam aktivitas masyarakat tersebut. Ada standar benar salah yang diterakan untuk mengukur kemampuan seseorang memasuki budaya tersebut.
Menjadi bagian dari semangat agama, adalah mengusahakan kekudusan, bukan saja untuk meraih keselamatan, melainkan juga sebagai tata cara yang wajar dalam hidup di hadapan Yang Ilahi, dalam kebersamaan dengan sesama penghayat agama tersebut. Mengupayakan kekudusan juga menjadi cara bertindak yang jika dilanggar, bisa mengguncang hidup sosial yang dibangun bersama.
Dalam konteks inilah kita mengenal istilah tahir dan najis. Najis itu hal-hal yang dapat menghambat kedekatan dengan Yang Kudus, dan bersifat menular. Dalam tradisi Yahudi sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Perjanjian Lama, ada beberapa hal yang dianggap menajiskan. Misalnya orang mati (Bil 19:11-12), Kusta (Im 13:1-14; 2Rak 7:3), dan makanan yang asing (Yeh 4:13). Tahir, di sisi lain, adalah penyucian, yang membuat disposisi batin yang terbuka untuk berelasi dengan Allah.
Konsep-konsep spiritual ini muncul untuk membantu kita menakar diri dalam perjalanan menuju kekudusan. Kita jadi bisa mengukur, seberapa jauh kita cukup layak menghadap Tuhan, dalam persekutuan dengan umatNya. Dalam suatu pertemuan sosial, kita bisa saja salah kostum, dan merasa tak nyaman karenanya. Demikian pula, suatu tindakan yang membuat kita najis, seperti salah kostum. Persoalannya, sanksi sosial bisa jadi terlalu berlebih. Formalisme yang eksesif bisa membuat seseorang menjadi munafik, karena ia mengatur penampilan luarnya agar sesuai dengan standar sosial, padahal hatinya belum tentu selaras dengannya. Dan betapa bahaya kemunafikan itu juga terus dipaparkan di hadapan kita dalam diri orang-orang yang mengaku beragama dan beriman kuat, tetapi dengan mudah menghakimi bahkan menista orang lain yang tak sependapat dengannya. Konsep-konsep agama dapat menjadi alat mendapatkan kekuasaan belaka, dan seperti barang dagangan, bisa mudah diperjualbelikan. Garis pemisah yang awalnya dibuat untuk membantu merefleksi diri dalam perjalanan menuju kekudusan, menjadi garis pemecah antara kami dan kamu.
Kristus hadir untuk mengembalikan semangat dasar hukum Taurat. Belas kasih menjadi fondasinya, bukan semangat menghakimi dan menghukumi. Setelah 2000 tahun berlalu, dunia masih saja harus banyak belajar untuk mengerti dan melaksanakannya. Sudahkah aku mengikutiNya?
