Damai

Damai

HARI RABU DALAM MINGGU BIASA II
18 January, 2017

Ibrani 7:1-3, 15-17
Markus 3:1-6

Saudara-saudariku terkasih,
    Sekali lagi bacaan pertama hari ini berbicara tentang Melkisedek, raja Salem dan  imam Allah yang Mahatinggi. Melkisedek sebagai raja Salem, tetapi juga sebagai raja damai.  Imam agung Melkisedek inipun adalah pralambang Yesus, yang sering kali kita kenal sebagai Pangeran Perdamaian, atau Raja Damai. Bagi Yesus konsep “damai” menjadi sangat penting dalam misi perutusanNya, namun seringkali juga tidak dimengerti oleh dunia, bahkan menimbulkan konflik.
    Sementara orang berpendapat bahwa damai berarti tidak ada konflik. Lebih tepat, damai adalah suatu resolusi tanpa kekerasan dalam suatu tatanan kehidupan bersama diantara dan dengan orang lain. “Crucial Conversations” salah satu the best-seller dari New York Times pernah mengangkat satu topic tentang “How to stay in Dialogue when you’re angry, scared, or hurt.”
    Yesus dalam bacaan Injil hari ini coba mengontrol the crucial conversation dengan kaum pharisi, tanpa harus membakar emosi mereka, tetapi mengajak mereka untuk lebih berpikir dan menganalisa serta lebih kritis dalam menangani suatu kasus yang erat berhubungan dengan kehidupan manusia, dan kemanusiaan. Karena kita semua kiranya bisa menyadari bahwa hidup bersama, konflik, beda pendapat suatu kenyataan dan konsekwensi yang tidak dapat kita hindari dari kehidupan berkomunitas, bermasyarakat dan bahkan bernegara. Yesus dalam bacaan injil hari ini memberikan kita suatu contoh bagaimana kita tidak menjadi sangat legalistis tetapi lebih melihat dan menekankan aspek manusiawi.
    Ketika Yesus menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya pada hari Sabat, kaum Pharisi yang sangat taat kepada hukum menjadi sangat marah….kesal dan bahkan samasekali tidak setuju dengan apa yang Yesus lakukan. Keadaan seperti ini oleh kaum Pharisi boleh dibilang suatu tindakan “penistaan agama.” Tetapi Yesus mempergunakan konsep dialog, mempergunakan akal sehat dengan mengajukan pertanyaan kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyeamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Kaum pharisi diam saja…berpikir?…merenungkan?…mawas diri?… Ternyata mereka punya rencana lain lagi…yang lebih jahat. Oleh karena itu Yesus menjadi sangat sedih oleh “ketegaran hati mereka.” Menghadapi, mengatasi sikap hati mereka yang jahat itu, Yesus tunjukkan dalam suatu tindakan kemanusiaan dengan mengatakan: “Ulurkanlah tanganmu!” Dan orang yang lumpuh  sebelah tangan itu “mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.”
Saudara-saudariku terkasih, 
    Sikap apakah yang dapat kita pelajarai dari Yesus hari ini untuk kita terapkan dalam kehidupan berkomunitas, berbangsa dan bernegara, dimana kita hidup diantara dan dengan orang lain? Hari ini Yesus memberi kita clue/petunjuk untuk kita simak, apabila kita menghadapi konflik, beda pendapat dalam kehidupan bersama.  Kita tahu bahwa Yesus juga pernah marah. Menghadapi ketidakadilan atau ketegaran hati manusia terhadap Tuhan. Yesus menghendaki agar kita dapat menyalurkan kemarahan secara tepat dan mengungkapkan perasaan kita secara baik. Apa yang Yesus lakukan? Yesus mengungkapkan perasaan dan kemarahananNya secara tepat.
    Yesus tidak melampiaskan kemarahan dengan adu fisik atau kata-kata kasar dan brutal. Yesus memberi contoh bagaimana kita harus menahan diri dan tidak bertindak agresip, juga tidak dengan kata-kata kasar. Tetapi Yesus dengan tegas menunjukkan prinsip-prinsip kemanusiaan. Seseorang yang tegas adalah orang yang bisa menyikapi apa yang ia hadapi dan dengan penuh kesadaran tahu bahwa kata dan perbuatannya adalah benar; dengan kalem menghadapi persoalannya serta tidak berkompromi terhadap hal-hal yang menjadi prinsip. Kadang-kadang hal ini bisa saja dibilang fleksibel terhadap hal-hal yang membuat kita harus membuat pilihan ketika dihadapkan dengan yang setuju dan tidak setuju.
Selamat merenungkan!!!
Comments are closed.
Translate »