HARI SELASA PEKAN II MASA BIASA
HARI SELASA PEKAN II
MASA BIASA
17 January, 2017
Ibrani 6:10-20
Markus 2:23-28
Saudara-saudariku terkasih,
Lahir dan dibesarkan dalam keluarga Katolik, kemudian mengawali pendidikan resmi di sekolah Katolik, lalu berbicara tentang “kesepuluh perintah Allah,” boleh dibilang sudah tidak asing lagi, dan bahkan sudah dihapal dengan baik sejak kecil. Tetapi pada masa hidup Yesus, pernyataan yang kita dengar dari bacaan Injil hari ini boleh dibilang sangat mengejutkan bagi orang-orang Farisi yang benar-benar sangat taat kepada hukum Allah…dimana mereka sangat memegang teguh pada hukum Allah dan tidak memperbolehkan siapapun untuk tidak menghargai “kesucian hari Sabat”. Ketika Yesus ditanya: “Mengapa Yesus dan para muridNya berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Yesus memberikan suatu jawaban telak kepada kaum Farisi: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” Bagi orang Farisi saat itu sudah boleh menghakimi Yesus dengan mengatakan bahwa Yesus telah melakukan “penistaan agama, hukum Allah.”
Mengapa orang Farisi begitu gigih melindungi kesucian hari Sabat? Ini suatu kesempatan baik untuk kita renungkan dan dalami kesepuluh hukum Allah itu; untuk melihat relevansinya bagi kehidupan kita? Apakah kesepuluh hukum itu benar-benar berasal dari Allah? Sepertinya pertanyaan diatas tidak terlalu penting untuk kita simak lagi, tetapi yang perlu kita renungkan dan dalami yakni apa aplikasinya untuk kehidupan kita sehari-hari.
Bagaimana sikap kita terhadap kesepuluh hukum Tuhan itu, teristimewa yang berhubungan dengan bacaan kita hari ini, tentang “hari Sabat?” Apa sih sikap kita dalam hubungan dengan kesucian hari Sabat? Apakah dengan membela kesucian hari Sabat, kita sudah memberikan sesuatu untuk Allah yang sungguh-sungguh telah memiliki segala sesuatu?
Lalu mengapa Allah memberikan kesempuluh perintahNya? Apakah latarbelakang dan maksud dari hukum Allah itu? Saudara, Allah memberikan perintah agar kita dapat menjaga kesucian hari Sabat bukan karena Allah membutuhkan perhatian kita, tetapi karena kita membutuhkan rahmat dan kasih Allah. Karena rahmat dan kasihNya, Allah menyelamatkan, menyembuhkan dan membebaskan kita. Singkatnya, bahwa inilah ordinansi atau peraturan ilahi – hukum ilahi yang berdasarkan pada apa yang Allah ketahui segala sesuatu yang kita butuhkan, yang kita perlukan dalam kehidupan ini. Dengan demikian boleh dibilang bahwa maksud serta tujuan kesepuluh hukum Allah itu untuk kebaikan kita dan bukan untuk Allah. Kita yang membutuhkan rahmat dan kasih Allah.
Jadi, menjaga kesucian hari Sabat dengan kehadiran kita dalam perayaan Ekaristi setiap hari Minggu ataupun setiap hari, memberikan kita kesempatan untuk senantiasa mengangkat pikiran dan hati kita kepada Allah, serta memuji dan memuliakan Allah dalam doa dan persembahan. Ketika kita dilimpahkan oleh Yesus dengan sabda dan sakramen-sakramenNya, maka kita akan selalu bertumbuh, berkembang dan menjadi dewasa dalam iman dan kasih akan Allah; dan konsekwensinya kita akan hidup bersama dalam sukacita dan damai serta hidup dalam kepenuhan dalam Allah seperti yang telah Ia kehendaki.
Saudara-saudariku terkasih,
Untuk sementara, hari ini kiranya sudah cukup bagi kita merenungkan, mendalami salah satu saja dari kesepuluh perintah Allah. Lain kali kita akan bisa renungkan kesembilan hukumNya yang lain. Yang penting kita sadari bahwa kesepuluh perintah Allah itu sungguh-sungguh membantu kita untuk lebih merasakan betapa besar rahmat dan kasih Allah itu untuk kehidupan kita dan bukan untuk Allah. Amin.