Indahnya relasi kita dengan Tuhan dalam doa

Indahnya relasi kita dengan Tuhan dalam doa

HARI JUMAT PEKAN II MASA BIASA

20 January, 2017

Hibrani 8:6-13
Markus 3:13-19

Saudara-saudariku terkasih,
    Beberapa tahun yang lalu, pengalaman iman diatas gunung Sinai memberi kesan tersendiri kepada saya. Di atas bukit batu itu, setelah melalui suatu perjuangan yang melelahkan, para peziarah boleh merasakan betapa nikmatnya boleh masuk kedalam keheningan dan keintiman dengan Tuhan; Dan bahkan bisa membayangkan betapa Musa pada waktu itu ketika ia menerima kesepuluh hukum Tuhan. Pengalaman itu sudah bisa membantu untuk lebih mengerti mengapa Daud di dalam kitab Mazmur 8:2-3 dikatakan: “Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan, Kekuatanku! Ya Tuhan, Bukit batuku, Kubu pertahananku dan Penyelamatku. Allahku, Gunung batuku, Tempat aku berlindung, Perisaiku, Tanduk keselamatanku, Kota bentengku!” Dengan demikian keheningan diatas gunung atau di tempat yang tinggi membuat kita merasa lebih dekat dengan Tuhan, lebih mesrah dan intim dengan Tuhan.
    Yesus sendiri selama masa hidupnya seringkali pergi ke atas bukit, ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Demikian juga dalam bacaan injil hari ini dikatakan bahwa Yesus naik ke atas bukit, ke tempat yang lebih tinggi bersama para muridNya. Diatas bukit itu, dalam kesempatan yang istimewa, Yesus memilih kedua belas rasulNya. Keduabelasan itu dipanggil “rasul”, dalam bahasa Yunani berarti “mereka yang diutus untuk melaksanakan suatu tugas.” Tugas melanjutkan misi messianic Nya, melayani dan membantu semua orang untuk bisa mengalami kehidupan yang baru bersama dan dalam Allah. Diatas bukit itu, Simon diberi nama baru, ia dipanggil Petrus yang berarti batu karang. Peristiwa itu membuat Petrus menjadi lebih dekat hubungannya dengan Yesus.
    Sebagaimana kita ketahui bahwa pelayanan para rasul itu menjadi pilar dalam karya pewartaan kepada semua orang. Pewartaan mereka berpusat pada perjanjian baru yang telah dibangun melalui kehidupan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga. Perjanjian baru itu ditegaskan lagi dalam bacaan pertama hari ini oleh St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Hibrani… yang dikutip dari kitab nabi Yeremia 31:31-34. Perjanjian baru ini akan mencapai ke kedalaman hati setiap orang yang selalu berpedoman pada hukum dalam melaksanakan tugas pengabdian serta pelayanan mereka kepada sesama.
    Di dalam perjanjian baru juga termasuk semua hukum Tuhan, yang senantiasa memungkinkan semua orang dengan senang hati melaksanakan kehendak Allah. Untuk membangun perjanjian ini Allah dan umatNya sungguh-sungguh menikmati keintiman itu. Oleh karena itu pengampunan dosapun telah menjadi suatu bukti keabadian kasih Tuhan. Dengan menjalankan perjanjian baru ini, kita akan menemukan dan melayani Tuhan dan sesama dalam segala aspek kehidupan kita.
    Hal ini kita temukan dalam kehidupan kedua martyr, St. Fabianus dan Sebastianus yang kita rayakan hari ini. Mereka telah mengintegrasikan hukum-hukum Tuhan bahkan dengan kesediaan mereka untuk mati demi iman mereka kepada Allah.
Saudara-saudariku terkasih,
    Kemampuan kita untuk meningkatkan semangat cinta kita kepada perjanjian baru ini terletak pada kesediaan kita untuk naik keatas bukit agar kita bisa menimba rahmat, berkat serta keintiman relasi kita dengan Dia yang telah menjadi gunung batu kita. Kita perlu waktu hening dalam doa dan meditasi untuk mendapat ketenteraman dalam dan kebersamaan kita dengan Allah, bukit batu kita. Kalau kita berdoa, Allah akan benar-benar masuk kedalam lubuk hati kita. Ia akan merobah pola hidup kita yang lama dan digantikan dengan yang baru agar kita dapat dipenuhi oleh kehadiran Kristus, Putera Allah. Dengan demikian kitapun akan dapat menghadirkan Kristus dalam hubungan kita dengan orang lain dan bisa mewartakan kasih Kristus itu dalam dan melalui pelayanan kita. Amin.
Comments are closed.
Translate »