KORBAN SALIB DAN DARAH KRISTUS

KORBAN SALIB DAN DARAH KRISTUS

HARI SABTU PEKAN II MASA BIASA

21 January, 2017

Hibrani 9:2-3, 11-14
Markus 3:20-21
Saudara-saudariku terkasih,
    Tujuan utama dari surat St. Paulus kepada jemaat di Hibrani hari ini ialah kepada umat Kristiani Yahudi yang lagi mengalami krisis kepercayaan oleh pelbagai macam tuntutan sebagai orang kristen. Sepertinya mereka juga mengalami sikap acuh tak acuh dari sesama Kristen. Oleh karena itu, thema utama dari surat St. Paulus ini adalah korban salib dan darah Kristus yang digambarkan untuk membangun kembali semangat mereka yang telah hilang dan meneguhkan kembali iman mereka, meskipun olehnya mereka tidak merasa tersiksa.
    Selanjutnya dalam hubungan dengan bacaan pertama hari ini pula yang dimulai dengan gambaran akan tabernakel Perjanjian Lama dan pelbagai macam ritualnya, termasuk didalamnya ialah kurban darah; Maka kurban darah adalah thema yang sangat utuk bangsa Israel pada zaman itu karena mereka sudah percaya akan korban penghapusan dosa. Oleh karena itu, St. Paulus melihat dan memakai kesempatan ini untuk diterapkan sebagai model korban darah dab kematian Yesus. Atas dasar pemikiran itu pengarang surat inipun mengetrapkannya sebagai perjanjian, ritual dan pelayanan imamat Kristus.
Saudara-saudariku terkasih,
    Sejak Kristus menyempurnakan pengampunan dosa melalui kematianNya di salib,Yesuspun sekaligus menjadi Pengantara Perjanjian Baru. Sebelumnya korban darah dari Perjanjian Lama tidak pernah untuk pengampunan dosa dimana mereka sudah harus mengulangi ritualnya setiap tahun. Sekali Yesus wafat di salib, ia menghapus semua dosa-dosa dunia. Korban Salib dan DarahNya telah menjadi sumber kehidupan kekal.
    Oleh karena itu Injil hari ini mengisahkan apa saja yang Yesus lakukan di atas gunung.  Yesus memilih rasul-rasulNya dan sejak saat itu Yesus membuat mereka menjadi lebih dekat denganNya. Para murid sudah harus mulai mengalami perjalanan salib dan korban darahNya. Begitu mereka turun dari bukit sudah ada begitu banyak orang yang  berkumpul sampai mereka sendiri tidak sempat untuk istirahat dan makan. Sementara orang lain berpikir bahwa Dia sudah tidak normal. Namun kasih dan belasksih kemanusiaanNya, demikian juga kehendakNya melaksanakan kehendak Bapa, membuat Dia terus melanjutkan apa yang harus Ia laksanakan.
Saudara-saudariku,
    Hari inipun gereja secara khusus menghormati St. Agnes yang sudah mengungkapkan cintanya kepada Allah sejak masa mudanya. St. Agnes hidup selibat, dan ketika saat itu banyak orang yang menjadi martyr; St. Agnespun memilih jalan itu, mesikupun pada saat itu St. Agnes masih berumur duabelas tahun. Oleh karena itu warna pakaian misa hari ini ‘merah’ symbol api dan darah. Secara liturgis, perayaan hari ini sungguh perayaan kemartiran. Meskipun kita tidak dapat mengorbankan hidup kita dengan menumpahkan darah seperti St. Agnes yang mempertahankan imannya, tetapi yang penting bahwa kita semua sadar akan panggilan yang telah kita terima dalam dan melalui sakrament Pembaptisan dan Krisma serta sakramen-sakramen lain sesuai dengan panggilan kita masing-masing, kiranya kita bisa memberikan sesuatu dari kehidupan kita sebagai pernyataan kasih dan cinta kita kepada sesama. Amin.
Comments are closed.
Translate »