Kabar Sukacita yang Menakutkan
Sabtu, 25 Maret 2017
Hari Raya Pesta Kabar Sukacita
Yesaya 7:10-14, 8:10
Mazmur 40
Ibrani 10:4-10
Lukas 1:26-38
Gambar di atas adalah sketsa yang dibuat oleh pelukis terkenal Belanda Rembrandt. Sketsa ini tidak pernah kesampaian untuk dijadikan lukisan, tetapi bisa membuat kita melihat imajinasi Rembrandt akan salah satu peristiwa paling menyentuh dalam Injil. Kebanyakan lukisan Annunciation, di mana Malaikat Gabriel menyampaikan kabar kepada Maria bahwa dia akan mengandung Sang Mesias, menggambarkan Maria dengan ekspresi tenang, penuh damai. Kita pun menyebutnya kabar sukacita, karena inilah saatnya Sang Juruselamat akan datang menyelamatkan dunia.
Tetapi bayangkan keadaan yang lebih memungkinkan pada saat itu. Maria, seorang gadis desa dari keluarga sederhana, yang usianya masih belasan tahun, tiba-tiba kedatangan malaikat Tuhan. Lebih dari itu, dia dikabarkan akan mengandung Anak Allah yang mewarisi tahta Raja Daud dan berkuasa atas bangsa Israel. Semua itu pasti menakutkan dan mengejutkan bagi Maria. Sebenarnya, terjemahan bahasa Indonesia bahwa Maria “terkejut” terlalu halus untuk melukiskan isi hatinya. Bahasa Yunani yang aslinya digunakan Lukas adalah diatarasso yang terdiri dari dua kata dia dan tarasso. Tarasso sendiri kurang lebih berarti terganggu atau gundah. Awalan dia dapat diartikan sangat atau melampaui batas. Jadi bisa dibayangkan bahwa Lukas ingin mengatakan Maria sangat gundah dan terganggu pikirannya ketika dikunjungi Gabriel, jauh dari perasaan damai atau sukacita yang sering kita bayangkan.
Dari gambar sketsa Rembrandt kita bisa melihat keadaan itu juga. Maria seperti jatuh dari kursinya dan Gabriel memegang tangannya untuk membantunya tidak jatuh. Ekspresi muka Maria seperti mau pingsan. Sandalnya terlepas dari kakinya. Gabriel memandang Maria seperti mencoba untuk menenangkannya.
Perjumpaan dengan Tuhan kadang mencengangkan dan menakutkan. Musa, misalnya, harus menutup mukanya karena terang Tuhan begitu menyilaukan. Di dalam hidup kita perjumpaan dengan Tuhan bisa dalam berbagai rupa. Kadang ada kejadian seperti mujizat atas kita atau keluarga kita. Kadang kita dihadapkan pada pilihan untuk merubah hidup kita seperti pekerjaan atau tempat tinggal baru. Kadang perubahan itu datang karena seorang yang kita cintai sakit keras atau meninggal dunia. Yang jelas, Tuhan biasanya menjumpai kita untuk mengajak kita keluar dari safe zone atau kenyamanan kita supaya iman kita bisa semakin bertumbuh dan juga karena Tuhan ingin menyertakan kita dalam karya penyelamatanNya.
Santo Fransiskus dari Assisi dalam salah satu suratnya mengatakan, “Kita adalah bunda (dari Yesus) sewaktu kita membawaNya dalam hati dan badan kita melalui kasih dan nurani yang murni dan ikhlas, dan kita melahirkan Yesus melalui perbuatan suci yang menjadi cahaya teladan bagi orang lain.” Kabar baik dari Tuhan tidak hanya untuk Maria, tapi kita semua. Setiap dari kita pun diberi anugrah untuk menghadirkan kasih dan terang Kristus di dunia ini.
Sama seperti Maria, sudah lumrah kalau kita pertama takut atau heran atau tidak tahu harus berbuat apa. Tapi seperti gambar Rembrandt di atas, Tuhan tidak akan membiarkan kita jatuh. Dia membantu kita untuk berdiri kembali, dan membantu kita untuk tenang kembali dan untuk menyiapkan diri bekerja sama dalam karya penyelamatanNya. Dengan ditopang olehNya, maka beranilah kita berkata bersama Maria,”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
