Renungan Kamis Putih (13 April 2017)

Renungan Kamis Putih (13 April 2017)

Renungan Kamis Putih (13 April 2017)

Bacaan-bacaan: Kel 12:1-8, 11-14; 1 Kor 11:23-26; Yoh 13:1-15

Renungan Kamis Putih adalah renungan tentang bagaimana kita semakin terlibat secara aktif di dalam Perayaan Ekaristi. Untuk itu kita perlu memahami beberapa hal. Bagaimana kita bisa memahami ritus liturgi yang suci pada hari Kamis Putih? Apa yang dimaksud oleh Rasul Paulus tentang setiap kali kita makan roti dan minum anggur, kita memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang? Bagaimana ritual liturgi yang suci itu sungguh bekerja dalam arti sungguh-sungguh terjadi dan mempengaruhi serta mengubah?

Ritual Liturgi yang suci ini disebut “melakukan kenangan” (“lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku”). Idenya adalah bahwa sesuatu yang terjadi di masa lalu dapat diingat kembali, secara ritual dihidupkan, sedemikian rupa sehingga kisah masa lalu itu menjadi aktual kembali pada masa kini dan dapat diikuti secara aktif di dalamnya. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Kita tidak memiliki model-modelnya secara fisik, metafisik atau psikologi yang mana dapat menjelaskan hal itu secara menyeluruh dan memuaskan. Untuk menjelaskan ritual secara baik adalah melalui metafor atau menceriterakan kisah-kisah. Allah hadir manakala kisah-kisah tertentu diceriterakan kembali.

Ide tentang melakukan kenangan akan dapat membantu memahami Perayaan Ekaristi. Di antara banyak hal, Perayaan Ekaristi adalah sebuah kenangan, suatu ritual tindakan pengenangan kembali akan Yesus Kristus yang mengorbankan diri untuk kita. Di antara banyak dimensi tentang Perayaan Ekaristi, hal ini, pengorbanan, barangkali adalah hal yang paling susah dimengerti. Bagaimana Perayaan Ekaristi sebagai korban bisa dipahami?

Sebuah pengorbanan adalah suatu tindakan yang tidak memikirkan keutungan diri sendiri, sebuah matiraga, yang akan membantu orang lain dan membantu mendewasakan hati orang yang melakukan tindakan pengorbanan itu. Yesus telah mengorbankan hidupNya untuk kita, khususnya melalui jalan salib dan kematian di kayu salib. Kita sungguh percaya bahwa kita diselamatkan melalui kematianNya, melalui pengorbananNya pada hari Jumat Suci. Akan tetapi bagaimana itu terjadi bahwa dapatkah kematian seseorang yang terjadi dua ribu tahun yang lalu membantu orang lain dari segala jaman?

Perayaan Ekaristi menghadirkan kembali kepada kita kematian Yesus Kristus dan juga tanggapan Allah Bapa atas kematianNya, yakni kebangkitanNya, dan mengundang kita untuk berpartisipasi di dalam kejadian itu. Apa yang Perayaan Ekaristi hadirkan bukanlah hanya Kristus yang sudah sangat dikenal dan dipuji-puji untuk disembah dan disantap dalam komuni, melainkan kenyataan wafat dan kebangkitan Kristus sebagai kejadian yang di dalamnya kita diundang untuk melibatkan diri. Sangat sering pemahaman tentang Perayaan Ekaristi ini telah hilang, sebagai akibatnya, kita pergi ke Misa untuk menerima pribadi Kristus (doa, pujian, dan mendengarkan SabdaNya) dan mengintesifkannya dalam persatuan kita (menyambut komuni) dengan Tubuh Kristus; kedua alasan diatas sangatlah tepat, penting, dan benar, namun kita bisa “luput” (tidak kena pada sasaran) bahwa kita di sana dalam Perayaan Ekaristi adalah untuk berpartisipasi atau terlibat secara aktif dalam peristiwa penyelamatan melalui wafat dan kebangkitan Kristus, tidak hanya hadir memuji dan memuliakan Tuhan saja.

Bagaimana kita bisa ikut terlibat secara aktif pada peristiwa yang telah lama terjadi dalam sejarah? Ketika kita memperhitungkan kembali, mengenangkan kembali, dan menghadirkan kembali secara ritual kisah pengorbanan Yesus (Di dalam Doa Syukur Agung, pusat dan puncak Perayaan Ekaristi) kita mengalami “kehadiran yang sungguh-sungguh” akan peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus. Dan lebih lagi, kenyataan itu dianugerahkan kepada kita supaya kita berpartisipasi atau melibatkan diri secara aktif. Bagaimana caranya? Kita melibatkan diri di dalam pengorbanan Yesus ketika kita, sama seperti Yesus, merelakan diri kita dihancurkan, menjadi “selfless” atau tidak mementingkan diri sendiri lagi. Sama seperti biji-biji gandum yang rela dihancurkan untuk dibuat menjadi roti tak beragi dan buah-buah anggur yang rela dihancurkan dan dibuat menjadi minuman anggur dalam peryaan Ekaristi.

Ketika kita rela untuk dihancurkan dari kebutuhan untuk mementingkan diri sendiri dalam Perayaan Ekaristi kita diubah menjadi bagian integral dan komunal Tubuh dan Darah Kristus, yakni Gereja. Santo Agustinus ketika memberikan komuni kepada umat, sebagai ganti mengucapkan “Tubuh Kristus” ia mengucapkan “Terimalah jatidirimu”. Inilah yang semestinya terjadi. Di dalam Perayaan Ekaristi, umat Allah yang hadir dan terlibat secara aktif, dengan mengorbankan segala sesuatu yang memecah-belah kita sebagai umat, seharusnya menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Lebih dari roti dan anggur, kita, umat Allah, dimaksudkan untuk diubah, ditransubstansiasi untuk menyelamatkan dunia melalui doa dan pengorbanan diri kita.

Comments are closed.
Translate »