Percaya dan setia kepada Yesus, kita menjadi berani untuk mewartakan sesuatu yang adil dan benar

Percaya dan setia kepada Yesus, kita menjadi berani untuk mewartakan sesuatu yang adil dan benar

Sabtu, 29 April, 2017

HARI SABTU DALAM MINGGU KEDUA PASKAH

Kisah Para Rasul 6;1-7
Yohanes 6:16-21
Saudara-saudariku terkasih,
    Kisah tentang Yesus berjalan di atas air sudah menjadi sangat terkenal untuk setiap orang yang percaya kepada Yesus. Sebagaimana yang kita dengar dari bacaan Injil hari ini dikatakan bahwa para murid Yesus naik ke atas perahu. Sekaligus kita pun memikirkan bagaimana Petrus juga mau berjalan di atas air seperti yang Yesus lakukan.
    Tetapi sesungguhnya tidak demikian mudah yang dipikirkan ataupun dibayangkan. Karena hari ini kita mendengar cerita menurut versi Yohanes, tidak seperti yang digambarkan oleh Matius. Dikatakan bahwa “ketika itu hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum…tetapi Yesus belum juga datang  mendapatkan mereka.” Tetapi menurut Matius dikatakan bahwa: “setelah orang banyak itu disuruhNya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa…..Perahu murid-muridNya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan helombang, karena angin sakal.” Tidak pernah dikatakan kapan Petrus dan Yesus tidak naik ke atas perahu.
Saudara-saudari terkasih,
    Bagaimana peristiwa itu terjadi samasekali tidak terlalu penting. Yang paling penting dan utama, bahwa ketika : “sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka.” Dari injil Matius dikatakan bahwa “Perahu murid-muridNya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Karena mereka takut, Yesus meyakinkan mereka dengan berkata: “Aku ini, jangan takut!” 
“Aku ini, jangan takut!”…dengan segala kabar gembira yang diwartakan, maka jumlah umat semakin bertambah. Para murid boleh dibilang kewalahan untuk melayani kebutuhan umat yang sungguh haus akan kabar gembira itu. Oleh karena itu dikatakan bahwa jemaat diberi kesempatan untuk memilih tujuh orang dari antara mereka untuk tugas pelayanan, dan para murid akan lebih berkonsentrasi melanjutkan misi perutusan Yesus. Lalu mereka memilih Stefanus dan keenam orang lain lagi  sebagai diakon untuk tugas pelayanan umat yang semakin bertambah, bertumbuh dan berkembang.
Saudara-saudariku terkasih,
    Kepercayaan kepada Yesus dari umat purba itu memberi inspirasi kepda St. Katarina dari Siena yang pestanya kita rayakan hari ini. St. Katherina mempersembahkan hidupnya kepada Yesus meskipun sama sekali tidak di dukung oleh keluarganya. St. Katarina dari Siena melayani orang miskin dan sakit, jauh sebelum gereja mengalami angin gelombang yang menerpa pada abad ke empatbelas. Dalam umur yang tidak lebih dari 30 tahun, apalagi pada waktu itu kaum hawa belum punya banyak peranan, St. Katharina menulis ratusan surat kepada pemerintah dan pemimpin gereja agar mereka diberi kesempatan untuk tugas dan tanggungjawab yang sama. Dengan demkian St. Katharina benar-benar mau agar kesatuan dan damai bisa mewarnai tugas dan pelayanan mereka kepada sesama yang haus akan kabar gembira itu.
    Hari ini saudara-saudariku terkasih, teladan St. Katharina dan komunitas umat purba bisa menjadi contoh bagi kita dewasa ini. Sebagaimana mereka telah mempersembahkan hidup mereka dan percaya bahwa Yesus akan memberikan mereka kekuatan untuk mewartakan kebenaran dan keadilan dalam tugas membangun kerajaan Allah. Inilah panggilan yang perlu kita jawab seperti yang pernah dan telah dilaksanakan oleh para murid dan semua diakon serta St. Katharina dan kawan-kawannya. Amin.
Comments are closed.
Translate »