Misteri Agung Sakramen Ekaristi

Kis 9:31-42/Yoh 6:60-69
“Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: “Adakah perkataan ini menggoncangkan imanmu? Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” (61-63).
Di dalam Injil hari ini, kita masih merenung tentang Yesus sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga. Tetapi, para pendengar ajaran Yesus, termasuk para murid-Nya, tidak percaya karena bagi mereka ajaran Yesus ini “keras”, sulit dipahami, skandal. Menariknya bahwa Injil memberi kita informasi penting bahwa “Yesus yang di dalam hati-Nya tahu….” Yesus tahu bahwa para pendengar-Nya, termasuk murid-murid yang selalu dekat dan bersama-Nya merasa berat, tidak mampu mengerti apa yang Yesus sampaikan. Benar, Allah tidak bisa dipaksa untuk mengikuti apa yang manusia inginkan! Yang dibutuhkan sini adalah iman. Akan tetapi sesungguhnya iman ini bukan hanya dibutuhkan tapi harus dimanifestasikan sebagai rahmat, yakni “kondisi esensial” jika manusia ingin hidup bersama Allah, ingin selamat.
Dalam terang iman, sakramen Ekaristi adalah sakramen keselamatan. Sakramen ini adalah sakramen cinta kasih Allah bagi manusia. Di dalam Ekaristi kita berkumpul sebagai orang-orang yang dibaptis untuk berpartisipasi di dalam karya agung keselamatan Allah. Pembaptisan kita bersifat Trinitaris karena kita dibaptis dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Di sini seluruh jiwa, badan, pikiran dan hati kita seluruhnya disucikan dengan Air dan Roh Kudus. Dengan ini kita menjadi anggota Gereja, Tubuh Mistik Kristus.
Di dalam Gereja, sakramen Ekaristi menjadi “pusat dan puncak” kehidupan beriman kita. Kita datang untuk masuk dalam misteri keselamatan Kristus sendiri. Di dalam liturgi Ekaristi kita mendengarkan dan merenungkan Sabda Allah dan bertanya tentang apa yang Allah inginkan bagi kita melalui sabda-Nya itu. Kita merenung dan berusaha menangkap maksud Allah bagi kita masing-masing secara pribadi dan bagi komunitas gereja. Sedangkan di dalam liturgi Ekaristi kita masuk dalam persekutuan, komunio, dengan Kristus melalui Tubuh dan Darah-Nya yang kita sambut. Di dalam liturgi Ekaristi ini kita menyaksikan bagaimana Kristus melalui imam-Nya mengkonsekrasi Hosti dan Anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus sendiri untuk diberikan kepada umat yang hadir sebagai makanan dan minuman rohani. Di sini kita bersama-sama berpartisipasi aktif untuk merayakan pengorbanan Kristus bagi keselamatan kita dan dunia. Demikianlah di dalam setiap perayaan Ekaristi, kita bersama seluruh ciptaan mengangkat hati kepada Allah, sang Pencipta dan penyelamat, bersatu untuk menyembah dan memuji Allah, Bapa, Putra dan Roh Kudus, Misteri Agung, sumber dan tujuan perjalanan iman dan keselamatan kita. Karena itu kita dituntut untuk menerima setiap karya keselamatan Allah dengan sikap rendah hati dan iman, dan lewat perbuatan-perbuatan baik sebagai tanda nyata dari tindakan syukur dan pujian kita kepada Allah seperti yang telah dicontohkan kepada kita dalam diri Putera-Nya sendiri, Yesus Kristus. Semoga!