Kesabaran Allah
Senin, 5 Juni 2017
Kesabaran Allah
Injil : Mrk 12 :1-12
Dalam hidup kita, tak jarang kita mengalami ketidak-sabaran dengan situasi yang ada di sekitar kita. Misalnya kita melihat orang benar dan baik, justru mengalami penganiayaan dan ketidakadilan, sedangkan orang yang cara hidupnya tidak benar, justru mengalami berbagai macam kemudahan. Pada intinya, kita menjadi tidak sabar dengan situasi kejahatan dan ketidakadilan yang sedang terjadi. Bagaimana seharusnya kita menghadapi situasi seperti itu ? Ketika berusaha menjadi sabar bukankah justru membiarkan kejahatan dan ketidakadilan semakin merajalela ? Bagaimana seharusnya kita bersikap tegas terhadap prinsip tetapi tidak jatuh memberikan penghakiman.
Kisah perumpamaan tentang kebun anggur ini mengajak kita untuk merenungkan makna kesabaran Allah yang mengajarkan kepada kita untuk bersikap sabar dan tetap berpegang pada prinsip. Allah senantiasa memberikan sesuatu yang terbaik untuk manusia. Dalam bacaan Injil hari ini, kita merenungkan bagaimana pemilik kebun anggur dalam mempersiapkan kebun anggur agar memberikan hasil panen yang baik : mulai dari menanam pohon anggur pilihan, membangun pagar, menara untuk menjaga kebun anggur tersebut. Pemilik kebun anggur itu menggambarkan Pribadi Allah yang senantiasa menghendaki yang terbaik untuk manusia. Namun kebaikan dan kemurahan-Nya tidak ditanggapi manusia dengan baik. Manusia menolak kebaikan Allah, dengan menyalahgunakan kebebasan dan tanggung jawab yang telah diberikan. Dalam bacaan Injil hari ini, situasi yang demikian digambarkan dengan sikap para pekerja kebun anggur yang menangkap dan menganiaya para pelayan kebun anggur yang diutus oleh pemilik kebun anggur. Dalam tafsiran Kitab Suci, para pelayan kebun anggur itu adalah para nabi, utusan Allah yang menyerukan pertobatan. Dalam perikop Injil hari ini, Yesus hendak memperingatkan para ahli taurat yang merasa dirinya paling benar dan mudah menghakimi orang lain. Bahkan para pekerja kebun anggur itu membunuh putera atau ahli waris dari pemilik kebun anggur. Hal ini menggambarkan bagaimana kebrutalan para pekerja kebun anggur yang tidak lagi mampu mendengarkan kehendak Allah yang bergema dalam hati nuraninya.
Saudara-saudari yang terkasih, kisah perumpamaan dalam Injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan kesabaran dan kemurahan dan kebaikan hati Allah. Ia senantiasa berusaha agar hidup kita berbuah. Allah senantiasa memberikan kesempatan kepada kita untuk bertobat dan memperbaiki diri, namun sering kali kita seperti pekerja kebun anggur yang keras kepala dan memberontak. Marilah kita mohon kerendahan hati, sikap taat dan kemauan untuk bertobat serta kemauan untuk mendengarkan kehendak Allah. Kita pun pantas untuk mengucap syukur atas kasih karunia Allah yang senantiasa kita terima dan mohon keberanian untuk menjadi pewarta cinta kasih Allah itu kepada sesama, dalam tindakan mengampuni dan tidak menghakimi.