Persembahan diri kepada Allah dan sesama
Selasa, 6 Juni 2017
Persembahan diri kepada Allah dan sesama
Mrk 12:13-17
Seorang pedagang yang sukses pastilah akan mempunyai kebiasaan untuk menghitung pamasukan dan pengeluaran setiap hari, setiap minggu, setiap bulan dan setiap tahun. Ia akan selalu menghitung berapa keuntungan atau kerugian. Dari kebiasaan itu, si pedagang akan mengetahui perkembangan usaha dagangnya. Keuntungan dan kerugian sekecil apapun akan berguna untuk menentukan langkah dan tindakan selanjutnya. Sebetulnya kebiasaan tersebut juga bisa kita terapkan dalam kehidupan rohani kita. Setiap pengalaman keseharian, baik pengalaman suka ataupun duka, akan mempunyai suatu nilai apabila kita merefleksikannya dalam keheningan. Seperti seorang pedagang yang membuat neraca keuangan, kita pun perlu melihat neraca kehidupan kita, untuk merenungkan kelemahan dan kekuatan, kerapuhan dan ketahanan hidup kita. Intinya dalam perkembangan hidup rohani, evaluasi diri menjadi sarana penting untuk menggapai kematangan dan kedewasaan hidup. Untuk itulah perlu melihat setiap hari, neraca kehidupan kita, mengukur kualitas pemberian diri kepada Allah dan sesama.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajarkan kepada kita untuk bersikap bijaksana dalam kehidupan. Ia menjawab pertanyaan orang farisi, apakah menjadi suatu kewajiban untuk membayar pajak kepada kaisar. Mereka ingin mencobai Yesus dengan mengajukan suatu pertanyaan, apakah Yesus dan murid-muridNya harus membayar pajak kepada kaisar. Mereka berharap bahwa Yesus akan membuat kesalahan dalam menjawab pertanyaan. Namun bagi Yesus, pertanyaan tersebut menjadi sarana untuk memberikan pengajaran. Dia menjawab pertanyaan tersebut dengan penuh bijaksana, bahwa kita perlu memberikan apa yang menjadi hak kaisar dan juga memberikan apa yang menjadi hak Allah. Yesus mengajak kita untuk bersikap realistis, yaitu melakukan apa yang diwajibkan ‘kaisar’, misalnya kewajiban bekerja untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, dan kewajiban sebagai anggota masyarakat, namun hendaknya janganlah melalaikan kewajiban yang diminta oleh Allah, misalnya berdoa, berderma dan olah rohani. Yesus mengundang kita untuk bersikap bijaksana, untuk memberikan takaran yang seimbang antara apa yang kita persembahkan kepada Allah (waktu, tenaga, biaya) dan apa yang kita persembahkan kepada ‘kaisar’ untuk memenuhi kehidupan jasmani kita (waktu, tenaga, biaya) . Kembali kepada contoh seorang pedagang yang membuat neraca keuangan untuk melihat perkembangan usaha dagangnya, kita pun dapat menerapkannya dalam kehidupan keseharian. Kita membuat neraca perbandingan atau semacam evaluasi, seberapa banyak waktu, tenaga dan biaya yang kita gunakan untuk mengabdi Allah, dan seberapa banyak waktu, tenaga dan biaya yang kita gunakan untuk mengabdi sesama. Marilah kita melihat dengan kejujuran hati, seberapa kualitas cinta yang kita persembahkan kepada Allah di tengah-tengah kesibukan kita ? Seberapa besar kepedulian kita untuk memajukan kesejahteraan hidup bersama dalam bermasyarakat ?