Bukan Panggung Sandiwara
Bukan Panggung Sandiwara
Peringatan St. Aloysius Gonzaga, Rabu pada Pekan Biasa ke-11
21 Juni 2017
Matius 6:1-6, 16-18
“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. (Mat 6:5)”
Dalam Alkitab bahasa Indonesia, kata yang digunakan adalah orang munafik. Kata munafik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti berpura-pura atau bermuka dua. Orang munafik adalah orang yang berpura-pura, melakukan sesuatu tetapi di dalam hatinya memiliki tujuan yang berbeda, biasanya untuk kepentingan sendiri.
Jika kita lihat dalam bahasa Yunani, kata yang dipilih Yesus adalah ‘hypokrites’ yang kemudian diserap oleh bahasa Inggris menjadi ‘hypocrite’. Sejatinya kata ‘hypokrites’ berarti seorang aktor atau pemain drama di teater. Orang-orang Yahudi di zaman Yesus tidak asing dengan isitilah ‘hypokrites’ sebagai aktor karena memang sudah menjadi kebudayaan Yunani-Romawi untuk menyaksikan pergelaran seni dan drama di teater.
Tentunya tidak ada yang salah dengan menjadi aktor atau pemeran. Saya sendiri pernah mengikuti kelompok teater sewaktu saya masih di seminari menengah, dan hal ini membantu saya mengembangkan berbagai kemampuan dasar dalam pewartaan. Aktor yang baik dan lihai adalah aktor yang bisa memerankan berbagai macam peran dengan karakter yang berbeda-beda. Apapun yang kondisi nyata sang aktor, saat pegelaran dimulai, dia harus lupakan dirinya dan menjadi tokoh yang ia perankan secara total sehingga apa yang pemirsa lihat dan alami adalah sang tokoh dalam drama dan bukannya sang aktor dalam kehidupan nyatanya. Aktor yang baik tentunya layak mendapat pujian dan penghargaan.
Lalu kenapa Yesus sepertinya anti dengan ‘hypokrites’ atau aktor? Yesus tidak anti terhadap para aktor sungguhan di panggung atau di film, tetapi Yesus mengkritisi orang-orang yang menjadi aktor di luar panggung. Dalam Injil hari ini, Yesus secara khusus mengkritisi mereka yang menjadi ‘hypokrites’ di rumah ibadah dan dalam menjalankan tugas-tugas keagamaan seperti beribadah, beramal, dan berpuasa. Yesus dengan tegas mewartakan bahwa rumah ibadah bukanlah panggung sandiwara, dan ibadah bukan pertunjukan.
Rumah ibadah adalah rumah Tuhan dan ibadah dan doa kita adalah sarana mendekatkan diri kita dengan Tuhan. Jadi, pusat dari ibadah adalah Tuhan sendiri dan bukan kita. Saat kita mengubah pusat peribadahan kita dari Tuhan menjadi diri kita sendiri, maka rumah ibadah menjadi panggung dan kegiatan ibadah kita menjadi pertunjukan agar bisa dilihat oleh orang lain dan mendapatkan pujian. Ini bukanlah ibadah dan segala berkat dan rahmat yang mengalir dari kegiatan peribadahan akan terhenti dan hanya kesombongan dan keangkuhan kita yang semakin dipupuk.
Teguran Yesus bagi para ‘hypokrites’ dua ribu tahun lalu masih sangat relevan saat ini. Apakah saat kita pergi ke gereja dan mengikuti misa kita menjadikan semua ini sebuah pentas? Apakah perbuatan baik untuk Gereja dan sesama termotivasi oleh niat memuji Allah atau ingin dipuji orang lain? Rumah ibadah bukanlah panggung sandiwara, dan ibadah bukan pertunjukan, dan kita bukanlah ‘hypokrites’.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP