Mengenal Allah Bapa di Doa Bapa Kami

Mengenal Allah Bapa di Doa Bapa Kami

Mengenal Allah Bapa di Doa Bapa Kami
 
Kamis pada Pekan Biasa ke-11
22 Juni 2017
Matius 6:7-15
 
“Dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah (Mat 6:7)”
 
Injil hari ini memberikan kita sebuah doa yang paling indah dan penuh dengan makna karena doa ini berasal dari Yesus sendiri. Ini adalah doa Bapa Kami, doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri. Penjelasan dan pentafsiran atas doa ini sangat banyak dan mungkin tidak terhitung lagi. Dari para bapa Gereja seperti St. Agustinus, tokoh abad pertengahan seperti St. Thomas Aquinas hingga para teolog kontemporer seperti John Dominic Crossan, telah memberikan pendapat dan penjelasan mereka tentang doa ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kita tidak akan membahas secara detail doa ini, tetapi kita coba melihat konteks dari pengajaran doa ini di Injil Matius.
Sebelum mengajarkan Doa Bapa Kami, Yesus mengingatkan kita untuk tidak berdoa seperti “orang yang tidak mengenal Allah”. Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah “etnikos” yang berarti orang-orang yang bukan dari bangsa dan agama Yahudi. Jadi, dalam konteks zaman Yesus, “etnikos” adalah orang-orang Romawi atau Yunani yang menyembah banyak dewa-dewi. Di dalam doa-doa, mereka akan menyebut dan memanggil nama-nama dewa-dewi ini. Semakin banyak semakin baik karena harapannya satu atau dua dari dewa-dewi ini akan mendengarkan permohonan mereka. Karena nama mereka yang banyak dan pengucapannya cepat dan cenderung berulang-ulang, para pemuja dewa-dewi ini terkesan bertele-tele.
Yesus menkritisi praktek doa seperti ini bukan semata-mata karena doanya panjang dan cenderung bertele-tele. Jika benar Yesus mengkritisi doa yang panjang, kita sebaiknya tidak mengikuti Ekaristi yang kadang-kadang bisa berlansung selama dua jam, atau mendoakan rosari karena ini doa devosi yang pada dasarnya diulang-ulang. Alasan utama adalah bagi Yesus doa yang benar adalah doa yang tertuju pada satu Allah yang benar. Kita tidak berdoa pada tuhan-tuhan kecil yang kita ciptakan agar kehendak kita tercapai.
Melalui Doa Bapa Kami, Yesus memperkenalkan siapa Allah kita, dan bagaimana kita harus berelasi dengan-Nya. Dia adalah Allah yang nama-Nya kita muliakan dan bukan Dia yang memuliakan nama kita. Dia adalah Allah yang kehendak-Nya akan terjadi bagi kita dan bukan kehendak kita yang Dia akan patuhi. Dia adalah Allah yang memberikan roti atau rejeki yang cukup untuk hari ini, dan kitapun perlu mencukupkan dengan apa yang Allah berikan untuk hari ini, tidak berlebihan, tidak cemas dan tidak serakah. Dia adalah Allah yang memaafkan dan kitapun perlu belajar memaafkan walaupun itu sulit. Dia adalah Allah yang tidak akan membawa kita pada pencobaan dan bahaya, maka janganlah kita membawa diri kita pada pencobaan dan dosa. Dan Dia adalah Allah dan Bapa kita, oleh karena itu kita perlu berprilaku seperti anak-anak-Nya.
Tidak salah jika Alkitab Bahasa Indonesia menterjemahkan “etnikos” sebagai “orang yang tidak mengenal Allah” karena melalui Doa Bapa Kami, Yesus mengajak kita mengenal Allah lebih dalam dan berdoa sebagai orang-orang yang mengenal Allah, dan bukan seperti “etnikos”.
 
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP   
Comments are closed.
Translate »