Yang Kau sembunyikan kepada kaum cerdik pandai, kau nyatakan kepada orang kecil.
Renungan Harian
Rabu, 19 Juli 2017
Injil: Mat 11:25-27
Yang Kau sembunyikan kepada kaum cerdik pandai, kau nyatakan kepada orang kecil.
Ada ajaran di antara umat Israel bahwa pada waktu Sang Messias datang, anak-anak kecil atau bayi-bayi yang ada di dunia ini akan menemukan hal-hal yang tersembunyi, yakni kebijaksanaan dan pengetahuan akan yang ilahi. Dan pada waktu sesudah bait Allah dihancurkan, nubuat kenabian akan diambil dan diberikan kepada yang bodoh dan bayi-bayi.
Dengan menungkapkan kata-kata di atas, Yesus mengingatkan pendengarnya khususnya para ahli Taurat dan kaum Farisi bahwa Sang Mesias telah datang di tengah-tengah mereka. Kedatangan Sang penebus ini ditanggapi dengan sikap permusuhan dari mereka yang memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat, demi mempertahankan faham monoteisme yang kaku.
Di samping itu ada kebiasaan di antara para kaum cerdik pandai Yahudi, pada perjamuan paskah Yahudi setiap tahun, mereka bersorak gembira sambil mengatakan, “kami semua yang bijaksana, kami semua yang tahu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, kami semua yang memahami hukum.”Hal ini tercermin pada Sabda Tuhan tentang doa yang dibenarkan (Lukas 18:9-14).
Ketika Yesus menyebut istilah kaum cerdik pandai dan kaum bodoh, anak-anak kecil, di hadapan umat Yahudi, sebagian besar pendengar, akan sudah memahami ke mana arah pembicaraan Yesus itu: “kebesaran” kaum elite dalam masyarakat baik institusi agama maupun sipil dipanggil untuk mempercayai kedatangan Sang Penyelamat.
Tidak semua ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah sombong dalam hal kerohanian. Kebanyakan adalah orang-orang yang pandai dan saleh. Kiranya karena pemahaman pada faham monoteisme yang kaku itulah yang membuat Yesus menyampaikan bahwa, “Semua telah diserahkan oleh Bapa-Ku kepada-Ku, …tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak, …”
Injil yang dibacakan dalam Misa hari ini mengingatkan kita kembali akan iman kita kepada Tuhan Yesus Sang Penyelamat. Sang penyelamat memperlakukan kita bukan sebagai hamba-hamba yang diawasi untuk dicari-cari kesalahan mereka, melainkan sebagai seorang anak sekaligus sahabat yang mendapatkan kesempatan untuk masuk kerajaan Allah.
Dengan baptisan yang telah kita terima kita telah menjadi anak-anak Allah yang sedang dalam perziarahan menuju kebahagiaan abadi. Dalam situasi ini kita diharapkan untuk terus tekun dan aktif berkarya demi keselamatan dunia karena kepada kita telah dianugerahkan kebijaksanaan ilahi dan pengetahuan tentang banyak hal yang diperlukan dalam perziarahan ini.
Yesus sering mengingatkan rasul-rasulnya akan bahaya “ragi” orang-orang Farisi. Kita pun demikian hendaknya kita berhati-hati akan apa yang kita lihat dan baca; apa yang kita inginkan dan kita miliki. Apakah semua itu mencerminkan hidup para peziarah anak-anak Allah menuju keselamatan?