Aku ini lemah lembut dan rendah hati
Renungan Harian
Kamis, 20 Juli 2017
Injil: Mat 11:28-30
Aku ini lemah lembut dan rendah hati
Yesus telah melihat bagaimana umat Israel mengalami beban hidup dari segala sudut-sosio-ekonomi, politik, dan keagamaan. Dari institusi keagamaan beban yang harus dipikul oleh umat Israel adalah adanya ratusan hukum dan atau aturan yang ditambahkan atau dibuat oleh partai Farisi khususnya mengenai kerja pada hari Sabat.
Ratusan ayat hukum dan atau aturan itu tentulah sangat membebani umat. Itulah yang dimaksud oleh Yesus dengan “Datanglah kepada-Ku kalian semua yang berbeban berat…” Hidup dibawah kuk ratusan hukum dan atau aturan itu, tidak hanya membuat umat Israel menjadi legalistic dalam melihat keselamatan tapi lebih parah lagi keselamatan sering sebagai yang paling penting menjadi terlupakan karena umat memusatkan diri pada bagaimana mereka harus mengikuti aturan.
Keselamatan yang terlupakan inilah yang diangkat ke permukaan oleh Yesus. Keselamatan yang Yesus tawarkan memang mengandung kuk dan beban, namun memiliki beban dan kuk yang ringan. Beban dan kuk yang ringan itu adalah iman dan tobat. “Kerajaan Allah sudah datang (dalam diri-Nya), bertobatlah dan percayalah kepada Injil (kabar sukacita bahwa Allah menyelamatkan: Jesus (Yeshua) artinya penyelamat).
Iman dan tobat sebagai beban dan kuk menjadi ringan karena senyatanya keselamatan itu bukanlah usaha umat sendiri melalui ketaatan melaksanakan ratusan hukum, melainkan karena anugerah yang cuma-cuma dari Allah sendiri melalui Yesus yang telah rela menganggung sengsara, wafat dan dibangkitkan dari kematian.
Beriman berarti bersedia mengidupi spiritualitas dalam doa pribadi, Ekaristi, membantu kaum miskin, terlibat secara aktif dalam kegiatan menggereja (evangelisasi) sesuai dengan talenta masing-masing, dan memiliki kegembiraan dalam hati karena percaya bahwa kita sudah diselamatkan. Bertobat berati terus tetap hidup ke dalam dan di dalam dunia yang sekuler ini, tanpa melarikan diri seakan-akan dunia sekuler adalah musuh yang harus dijauhi, namun tidak ikut-ikutan berdosa dan berusaha menjadi “garam dan terang dunia”.
Menjadi garam ke dalam dan di dalam dunia berarti rela meleburkan diri ke dalam dunia namun tidak dari dunia melainkan berada di dalam dunia dan bersama-sama mereka yang berkehendak baik mewarnai dunia menjadi tempat keselamatan tumbuh dan berkembang. Menjadi terang ke dan dalam dunia berarti waspada akan adanya tempat-tempat gelap. Walaupun kita sadar bahwa kita bisa memasuki tempat-tempat gelap namun kita tidak harus memasuki tempat-tempat gelap yang membahayakan iman kita. Namun ada di antara kita yang memang dipanggil secara khusus untuk memasuki tempat-tempat gelap tanpa menjadi lebur
dalam kegelapan itu, untuk membawa terang Kristus ke sana; memberikan kesaksian bahwa ada Terang sejati yang memanggil dunia kegelapan untuk keselamatan, tanpa menjadi lebur dengan kegelapan.