Injil: Mat 12:1-8
Renungan Harian
Jumat, 21 Juli 2017
Injil: Mat 12:1-8
Injil yang dibacakan dalam Misa hari ini sangat menarik karena bukan hanya tentang kaum Farisi yang mengkritik Yesus sekitar dua ribu tahun yang lalu, orang modern pun mempergunakan ayat-ayat itu untuk mempertanyakan bahwa bukankah Yesus mengajarkan orang untuk mencari jalan untuk melanggar hukum atau mencari lubang-lubang hukum.
Untuk menanggapi tuduhan-tuduhan kaum Farisi dan orang modern, baiklah kita tegaskan prinsip kebenaran yang absolut terlebih dahulu bahwa Yesus Kristus tidak berdosa dan tidak penah membujuk, menyarankan, atau menasehati orang untuk melanggar hukum Musa. Kita mengetahui bahwa Yesus lahir sebagai orang Yahudi yang dididik dan dibesarkan dibawah hukum Taurat Musa. Tidak ada bukti apa pun yang mengarah bahwa Yesus pernah melanggar hukum Musa melainkan justru sebagai pemelihara hukum Musa. Tidak ditemukan juga arahan Yesus agar orang melanggar atau tidak mentaati hukum Taurat.
Perlu ditambahkan bahwa Yesus tidak pernah mengajarkan, mengajurkan, atau memperkenalkan akan apa yang disebut sebagai etika situasi atau mencari lubang-lubang hukum berdasarkan situasi konkrit. Itu bukanlah sikap Yesus mencari cara untuk menghindari ketaatan pada Hukum Allah. Yesus tidak pernah toleran terhadap cara-cara itu. (Lih. Mat 5:17-20).
Setelah memahami kebenaran absolut di atas, kita juga perlu memahami bahwa kaum Farisi memang memusuhi Yesus. Yang namanya musuh selalu berusaha mencari kelemahan-kelemahan musuhnya untuk kemudian menjatuhkannya. Demikian juga dengan kaum Farisi. Di samping itu, kaum Farisi memang terkenal dengan kemampuan mereka dalam membaca hukum Musa dan mentafsirkannya, bahkan para ahli kitab suci Perjanjian Lama mengajarkan bahwa kaum Farisi berhasil menambahkan 600 lebih hukum atau aturan yang menyangkut hukum hari Sabat. Namun sudah bukan rahasia lagi bahwa kaum Farisi terkenal juga dengan ketidak-konsistennya mereka dalam menginterpretasikan hukum-hukum dan sering bunyi hukum itu dipelintir demi kepentingan pembangunan kerajaan keagamaan mereka. (Lih. Mat 3:7-10).
Jadi dalam konteks Injil hari ini kita menyadari bahwa kaum Farisi sudah memiliki agenda untuk menjatuhkan Yesus dengan alasan apa pun. Dengan memetik bulir gandum dan memakan bulir-bulir gandum itu sebenarnya tidak ada hukum Allah yang dilanggar para murid Yesus. memang ada hukum tentang tidak boleh memanen dan mempersiapkan makanan dalam porsi besar. Namun para murid hanya memetik bulir gandum dan memakannya. Mereka tidak melakukan panenan gandum dan tidak sibuk memasak makanan. Jadi tidak ada hukum yang dilanggar.
Yesus kemudian menujuk pada sikap inkonsistensi kaum Farisi tentang Daud dan pengikutnya dan imam-imam di bait Allah. Ketika Daud dan pengikutnya makan sajian itu, kaum Farisi tidak menyalahkan mereka, padahal Daud dan pengikutnya jelas-jelas bersalah; juga ketika imam-imam mengerjakan sesuatu untuk persembahan di bait Allah pada hari Sabat, kaum Farisi juga tidak menyalahkan imam-imam itu. Karena kalau hukum-hukum tetang hari Sabat (600 lebih jumlahnya) diobservasi, imam-imam pun tidak boleh melakukan persiapan apa-apa pada hari Sabat. Inilah yang membuat Yesus menelanjangi ketidak-konsistennya dan cara memelintir bunyi hukum yang dilakukan oleh kaum Farisi.
Maka yang dilakukan oleh murid-murid Yesus bukanlah pelanggaran terhadap hukum Musa dan bukan pula mempromosikan etika situasi. Bagi Yesus, ketaatan kaum Farisi kepada hukum Musa adalah ketaatan palsu. Ketaatan sejati adalah ketaatan hati yang lembut yang berisikan belaskasihan dan kesediaan untuk berkorban. Ketaatan kaum Farisi pada hukum Musa adalah ketataan kekerasan hati.
Bagaimana dengan kita? Kiranya kita belajar banyak dari Injil hari ini. Antara lain kita hendaknya berpikir terlebih dahulu sebelum kita berbicara, jangan-jangan ketika kita berbicara justru akan menyakiti hati orang lain. Hendaknya kita juga semakin berani konsisten akan apa yang kita ucapan dan apa yang kita perbuat. Memiliki hati yang lembut dan tidak mencari keutungan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain adalah sikap yang sangat terpuji. Kita menghadiri Misa dengan motivasi yang benar. Kita hadiri Perayaan Ekaristi bukan karena obligasi, bukan juga karena kita ingin membahagiakan pasangan atau orang tua kita. Apa motivasi Anda mengikuti Yesus dan menghadiri Misa?