Maunya Apa Sih?

Maunya Apa Sih?

20 September 2017

Hari Raya Peringatan Martir-martir Korea

Timotius 3:14-16
Mazmur 111
Lukas 7:31-35

Lukisan Martir-martir Korea di Pulau Jeju

Jika mendengar Yesus dalam Injil hari ini, seakan-akan dia frustrasi dengan bangsa Israel zaman itu. Ketika Yohanes Pembaptis mengajarkan puasa untuk pertobatan, orang menganggap dia kesurupan setan. Ketika Yesus makan dan minum bersama pemungut cukai dan orang-orang yang dianggap “berdosa”, dia disebut pemabuk dan orang rakus. Mungkin kita bisa membayangkan kekesalan Yesus: “Jadi maunya apa sih?”

Saya sering mendengar kekesalan ini dari para orang tua tentang anak-anak mereka, baik mereka warga negara Amerika maupun orang-orang yang baru bermigrasi dari Indonesia. Kekesalan itu ada dalam banyak hal, tapi terutama dalam hal iman Katolik. “Anak saya malas ke gereja,” atau “Anak saya tidak pernah berdoa lagi setelah kuliah,” dan sebagainya. Segala hal sudah dilakukan, tapi tetap saja tidak mempan. Maunya apa sih?

Perayaan dalam kalender Gereja hari ini mungkin bisa membantu kita. Antara tahun 1700-an sampai 1800-an, ribuan orang Katolik dianiaya dan dibunuh di Korea. Apakah yang bisa membuat begitu banyak orang bersedia mati karena iman mereka, yang sebenarnya belum lama masuk ke negara mereka?

Agama Katolik masuk ke Korea tidak seperti umumnya di negara-negara Asia Timur dan Tenggara lainnya. Iman Katolik pertama kali dibawa masuk oleh orang Korea sendiri, Yi Sung-hun yang mempelajari agama Katolik di Tiongkok dan dibaptis di sana sekitar ahun 1784. Ia kembali ke negaranya dan membentuk komunitas Katolik di Korea. Selama beberapa tahun, agama Katolik di Korea disebarkan oleh orang-orang awam karena tidak ada imam dari luar negeri yang diperbolehkan masuk oleh pemerintah saat itu.

Iman Katolik dapat bertumbuh subur dan pesat di Korea karena kreativitas para penginjil awam yang menggunakan filsafat Konfusius (Khonghucu) yang menjadi dasar hidup masyarakat di sana saat itu. Prinsip laku bakti, xiao, diperluas dari bakti pada orang tua dan pemerintah menjadi bakti kepada Allah Bapa, Sang Raja Semesta. Karena itulah banyak umat Korea rela mengorbankan nyawanya karena melihat perbuatan itu sebagai bakti kepada Tuhan, yang kedudukannya lebih tinggi dari penguasa saat itu. Mereka juga menolak membuka rahasia dan melaporkan orang-orang Katolik lain karena sikap bakti mereka pada sesama.

Sayangnya Dinasti Chosun yang berkuasa saat itu merasa bahwa ajaran Katolik akan mengancam kedudukan mereka. Rasa takut itulah yang membuat mereka mengejar-ngejar dan menganiaya orang-orang Kristen. Padahal bukan tidak mungkin kalau mereka membiarkan Kekristenan berkembang, kekuasaan mereka pun bisa berjalan bersama dengan agama baru itu. Dengan memeluk agama Katolik, orang Korea bukan serta merta mengacuhkan pemerintah. Dasar Konfusianisme mereka membuat mereka tetap menaruh hormat pada mereka yang berkuasa, tetapi mereka juga sadar bahwa ada yang lebih tinggi yang menuntut penghormatan yang lebih besar.

Tidak bisa dipungkiri dunia kita bergerak semakin cepat. Kita yang berasal dari generasi-generasi yang lebih awal kadang kebingungan untuk menyamakan langkah dengan generasi yang lebih muda. Salah satu pilihan tindakan adalah mengeluarkan larangan demi larangan pada mereka, yang seringkali malah membuat mereka marah dan mencari jalan belakang tanpa sepengetahuan kita.

Alternatifnya, kita bisa lebih peka terhadap aspirasi mereka yang paling dalam. Ini sebenarnya maunya mereka, dan maunya kita semua. Segala macam teknologi dan bentuk-bentuk interaksi sosial yang baru pada ujung-ujungnya adalah suatu usaha untuk memuaskan kebutuhan pokok manusia. Dapatkah kita melihat kebutuhan apa yang tidak mencukupi mereka? Mampukah kita menemukan nilai-nilai luhur dalam gaya hidup mereka yang berbeda dengan kita, dan membantu mereka menyadari bahwa dalam nilai luhur itulah kita bisa bersama-sama menemukan Tuhan? Niscaya jika itu terjadi, kita semua pun bisa menjadi martir-martir (bahasa Yunani yang berarti “saksi”) Tuhan di dunia ini.

Comments are closed.
Translate ยป