DISPOSISI DASAR SEORANG MURID
Senin, 2 Oktober 2017
Peringatan Wajib Para Malaikat Pelindung
Zakaria 8:1-8; Mazmur 102; Lukas 9:46-50
DISPOSISI DASAR SEORANG MURID
Bacaan Injil harian pekan ini berbicara tentang kemuridan. Kepada kita semua, Yesus menjelaskan siapa itu murid-Nya dan bagaimana laku kemuridan harus dijalani.
Injil hari ini mengisahkan para murid yang bertengkar karena memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka. Yesus rupanya tahu persoalan itu. Dengan cerdik, momen ini Ia jadikan kesempatan untuk menjelaskan apa artinya menjadi murid. Yesus memulai pengajaran-Nya dengan mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya. Ini adalah tindakan simbolis penuh bermakna. Para murid berdebat tentang siapa yang terbesar, tapi Yesus mengajar dengan membawa seorang anak kecil. Melalui anak kecil, Yesus menunjukkan seperti apakah profil murid-Nya.
Bagi para murid, profil murid ideal adalah yang terbesar di antara yang lainnya. Ukuran terbesar di sini bisa jadi adalah yang ter-pintar, yang ter-rajin, yang ter-kuat, yang ter-suci, yang ter-murah hati, dan “yang ter-yang ter” lainnya. Penilaian para murid ini rupanya berbeda dengan kriteria profil murid yang dikehendaki Yesus. Yesus tidak memberi standar yang muluk-muluk tentang siapa yang layak menjadi muridnya. Harus paling pintar? Tidak juga, karena orang bodoh pun bisa menjadi murid-Nya. Harus paling suci? Juga tidak, sebab Yesus pun memanggil orang berdosa untuk mengikuti-Nya.
Kepada para murid Yesus bersabda, “Barangsiapa menerima anak ini demi nama-Ku, dia menerima Aku. Dan barangsiapa menerima Aku, menerima Dia yang mengutus Aku.” Bagi Yesus, kriteria utama seorang murid adalah kemampuan menerima Yesus sebagai Tuhan. Orang yang menerima Yesus berarti adalah orang yang mau bergantung dan mengandalkan-Nya dalam semua perkara hidup. Inilah kekhasan anak kecil yang selalu tergantung pada orang yang lebih tua atau dewasa. Banyak pekerjaan tidak bisa dikerjakan anak kecil seorang diri. Anak kecil menjadi gambaran betapa terbatasnya manusia dan betapa ia memiliki ketergantungan dengan sosok yang senantiasa dapat diandalkan.
Dalam hidup ini, barangkali kita sudah meraih banyak prestasi dan kesuksesan. Kita mungkin pernah merasa menjadi yang terbaik, terdepan, atau terhebat. Injil hari memberi inspirasi iman bagi kita: bahwa meski kita orang hebat dan sukses, sebagai murid Yesus kita diajak untuk selalu bergantung dan mengandalkan-Nya. Menerima dan bergantung pada Yesus adalah disposisi dasar seorang murid.
Sudahkah aku memiliki disposisi dasar sebagai murid Yesus? Maukah aku bergantung pada-Nya dan selalu mengandalkan-Nya dalam segala persoalan hidup?