ISTIMEWA TANPA HARUS DIISTIMEWAKAN

ISTIMEWA TANPA HARUS DIISTIMEWAKAN

Selasa, 3 Oktober 2017

Zakharia 8:20-23; Mazmur 87:1-7; Lukas 9:51-56

 

ISTIMEWA TANPA HARUS DIISTIMEWAKAN

Kisah para murid berlanjut. Injil hari ini mengisahkan bagaimana para murid menyertai Yesus dalam perjalanan dan karya-Nya. Yang menarik dalam kisah hari ini adalah para murid menjumpai pengalaman ditolak. Yesus dan rombongan-Nya dalam perjalanan menuju Yerusalem, dan mereka harus melalui sebuah desa orang Samaria. Namun, rupanya orang Samaria di desa itu tidak mau menerima Yesus. Mereka tidak memperkenankan Yesus dan rombongan-Nya melewati wilayahnya.

Mendapati penolakan ini, Yakobus dan Yohanes marah. Barangkali mereka berpikir: “Orang Samaria ini memangnya siapa? Berani-beraninya mereka menolak Yesus, Tuhan kita. Awas, lihat saja nanti! Mereka pasti akan binasa!” Yakobus dan Yohanes lalu memiliki ide gila untuk menghancurkan desa itu. Mereka meminta izin pada Yesus: “Tuhan, bolehkah kami menurunkan api dari langit untuk membinasakan mereka?” Yakobus dan Yohanes tidak bisa menerima kenyataan ditolak. Mereka reaktif sehingga muncullah amarah dan dendam. Amarah dan dendam ini tumbuh dan berakar dari rasa arogan.

Arogan. Inilah salah satu godaan bagi setiap murid Yesus. Karena merasa sudah masuk dalam lingkaran orang dekat Yesus, orang bisa jadi merasa istimewa sehingga seolah-olah semuanya harus sesuai dengan keinginannya. Sikap arogan membuat orang merasa lebih di antara yang lainnya. Sikap arogan membuat orang merasa bisa berbuat apa saja demi keinginannya. Jika keinginannya tidak terwujud, seolah-olah ia kemudian merasa berhak untuk murka dan melampiaskan kemarahannya. Sikap arogan salah satunya tampak dalam keinginan untuk diistimewakan.

Menjadi murid memang adalah sebuah keistimewaan. Dengan menerima Yesus dalam hidupnya, orang menjadi penuh berkat dan beroleh selamat. Namun, bukan berarti seorang murid bisa arogan dan merasa harus selalu diistimewakan. Kepada para murid-Nya, Yesus justru mengajarkan kerendahan hati, bukan arogansi. Jika memang tidak boleh melewati desa orang Samaria, tetap ada jalan dan desa lain yang bisa dilewati. Yesus bisa menerima kenyataan itu. Itu menunjukkan bahwa Ia tak ingin diistimewakan. Menjadi murid pun seharusnya demikian: istimewa, namun tanpa harus minta diistimewakan.

 

Apakah aku ingin selalu diistimewakan? Apakah aku mau mengikuti jalan kerendahan hati Yesus?

Comments are closed.
Translate »