MURID: ORANG BIASA UNTUK KARYA LUAR BIASA
Jumat, 6 Oktober 2017
Barukh 1:15-22; Mazmur 79:1-5.8-9; Lukas 10:13-16
MURID: ORANG BIASA UNTUK KARYA LUAR BIASA
Kisah para murid berlanjut. Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus mengecam beberapa kota yang tidak bertobat dan menolak-Nya. Di akhir rentetan kecaman-Nya, Yesus berkata kepada para murid: “Barangsiapa mendengarkan kalian, ia mendengarkan Daku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” Kata-kata Yesus ini menunjukkan legitimasi yang kuat bagi para murid dalam berkarya. Kehadiran dan pewartaan para murid rupanya menjadi kehadiran dan pewartaan Yesus sendiri. Sebuah tugas terhormat, namun sekaligus berat.
Dalam Injil, kita tahu bahwa panggilan Yesus tidak diserukan pada ahli taurat yang paham akan ajaran-ajaran agama, atau kaum Farisi yang menjalankan hidup keagamaannya dengan tekun. Justru dalam diri orang sederhanalah panggilan itu diberikan. Yesus justru menghendaki orang biasa macam Petrus, seorang nelayan yang baik intelektual maupun hidup agamanya kurang, untuk menjadi murid-Nya. Yesus memilih orang biasa untuk karya luar biasa.
Panggilan dan perutusan menjadi murid juga diberikan Yesus kepada kita. Sebagai manusia biasa, kita punya banyak kelemahan dan kekurangan. Kita memang pendosa, tapi kita dipanggil! Yesus menghendaki kita yang biasa-biasa ini untuk menjadi murid dan mengikuti-Nya. Dengan memanggil kita menjadi murid-Nya, Yesus ingin menggunakan kita sebagai alat bagi-Nya untuk berkarya di tengah-tengah dunia. Yesus ingin kehadiran dan pewartaan kita menjadi kehadiran dan pewartaan-Nya. Yesus menghendaki hidup kita bisa memancarkan hidup-Nya di tengah-tengah dunia. Itulah tugas utama seorang murid!
Sekali lagi, memang tampak berat. Tapi, kita ingat bagaimana Yesus meneguhkan Petrus yang ragu menyambut panggilan-Nya dengan sabda, “Jangan takut!”. Semoga sabda Yesus itu juga menjadi peneguhan bagi kita bahwa sebiasa-biasanya kita Allah tetap berkenan memakai kita. Seperti Petrus dan para murid lainnya, dengan menyanggupi panggilan Yesus, kita yang biasa-biasa ini pun akan dimampukan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.
Mari kita sambut panggilan dan perutusan Allah untuk menjadi alat-Nya; dalam hidup berkeluarga, hidup menggereja, dalam pekerjaan, juga hidup bermasyarakat. Mari kita biarkan Allah berkarya di tengah-tengah dunia melalui diri kita yang biasa-biasa ini. Demi kebaikan sesama dan kemuliaan Allah.
Bersediakah aku menjadi alat-Nya? Maukah aku yang biasa ini menjalankan karya Allah yang luar biasa?