MENCERITAKAN KEBERHASILAN KEPADA ALLAH

MENCERITAKAN KEBERHASILAN KEPADA ALLAH

Sabtu, 7 Oktober 2017

Peringatan Wajib St. Perawan maria Ratu Rosario

Barukh 4:5-12.27-29; Mazmur 69:33-37; Lukas 10:17-24

 

MENCERITAKAN KEBERHASILAN KEPADA ALLAH

Kisah para murid berlanjut. Injil hari ini mengisahkan bagaimana para murid kembali dari perutusannya. Para murid bersukacita, dan kepada Yesus mereka berkata: “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Kegembiraan para murid ini memuat dua arti. Pertama, mereka bersukacita karena merasa telah berhasil menjalankan tugas perutusan dengan baik. Kedua, mereka tetap sadar bahwa keberhasilan itu semata-mata berkat Yesus; dalam nama Yesus-lah mereka mampu mengalahkan roh-roh jahat.

Dalam hidup harian, mungkin kita enggan atau malas membicarakan keberhasilan kita pada orang lain, bahkan kepada sahabat kita. Kita ragu dan takut kalau nanti dinilai sombong. Kita khawatir kalau nanti orang lain justru iri dengan keberhasilan itu dan lalu menjadi rendah diri karenanya. Kita biasanya enggan membicarakan keberhasilan kita karena takut merusak hubungan dengan sesama.

Namun, rupanya hal ini tidak berlaku dalam hubungan para murid dengan Yesus. Yesus selalu menyediakan ruang yang cukup bagi para murid untuk berbuat baik, untuk berhasil, dan untuk menikmati keberhasilan itu bersama-Nya dengan penuh sukacita. Menanggapi keberhasilan para murid, Yesus pun ikut bersukacita dan mengucap syukur kepada Bapa. Karenanya, bisa kita bayangkan: jika para murid enggan dan lalu tidak menceritakan kepada Yesus betapa bahagianya mereka akan keberhasilan perutusannya, mereka mungkin tidak berkesempatan untuk merasakan sukacita Yesus atas apa yang telah mereka lalukan dalam nama-Nya.

Sebagai murid, kita juga memiliki tugas perutusan yang dipercayakan Yesus kepada kita. Tugas perutusan itu bisa kita miliki di rumah, di tempat kerja, di lingkungan masyarakat, dan di mana saja. Injil hari ini menunjukkan pada kita bagaimana Yesus rupanya selalu menunggu kabar keberhasilan atas perutusan yang Ia percayakan kepada kita. Yesus selalu menanti kabar-kabar keberhasilan kita dan ingin kita menikmati setiap keberhasilan itu dalam sukacita bersama-Nya. Dalam sukacita bersama Yesus itu, kita akan semakin dibuat sadar betapa kita sungguh bergantung kepada-Nya.

 

Apakah aku mampu melihat keberhasilanku sebagai karya Allah? Maukah aku menceritakan keberhasilanku kepada Allah dan menikmati keberhasilan itu dengan penuh sukacita bersama-Nya?

Comments are closed.
Translate »