Senin Pekan Biasa XXIX

Senin Pekan Biasa XXIX

Senin Pekan Biasa XXIX

Bacaan: Roma 4:20-25; Lukas 12:13-21

 

“Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga” Begitulah moto kaum materialistis bin serakah. Kaya akan harta benda memang tidak dilarang. Namun, ketika kita menjadi materialistis, berfokus hanya pada harta kekayaan serta tidak peka terhadap sesama yang menderita dan berkekurangan, hidup kita senantiasa merasa terancam, tidak damai, dan tidak tenteram. Sebab, dengan mentalitas seperti itu, kita menjadikan harta benda sebagai tujuan utama hidup kita atau men-tuhan-kan harta kekayaan, dan bukan semestinya hanya sebagai sarana belaka.

Saya pernah membaca cerita tentang cara unik untuk menangkap monyet oleh orang-orang Afrika. Caranya demikian. Sang pemburu monyet, akan menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu berisi kacang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka meletakkannya di sore hari, dan mengikat/menanam toples itu erat-erat ke dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan. Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi. Monyet-monyet itu tak akan melepaskan tangannya sebelum mendapatkan kacang-kacang yang menjadi jebakan. Mereka tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan terjebak. Monyet itu, tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan kacang yang di gengamnya. Selama ia tetap mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula ia terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.

Barangkali kita tertawa dengan kebodohan monyet-monyet tersebut. Namun, terkadang kita dapat berlaku sama seperti monyet itu jika kita begitu terikat dengan kekayaan dan harta benda kita. Kita bisa menjadi orang yang serakah atau tamak. Orang yang serakah adalah orang yang dibelenggu oleh keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain, dan complain apa yang Tuhan berikan kepada kita. Yesus menegaskan kepada kita untuk “jangan mengingini” apa yang tidak menjadi hak kita. Dia juga menyatakan bahwa kehidupan seseorang (kebahagiaan seseorang) tidak ditentukan oleh kelimpahan harta miliknya.

Dalam Khotbah di Bukit, Yesus berkata: “Janganlah kamu mengumpulkan di bumi,” (Mat 6:19). Dalam Injil hari ini Yesus menegaskan: “Hindarilah keserakahan dalam segala bentuknya.” Dia mengajarkan hal ini dengan sangat tegas dalam perumpamaan tentang “Orang kaya yang bodoh.” Di dalam perikop ini, Yesus tidak menyalahkan orang kaya tersebut karena rajin mengumpulkan harta, namun karena keegoisan dan ketamakannya. Orang ini kehilangan kemampuan untuk memperhatikan orang lain. Dengan kata lain, Yesus mengatakan kepada kita bahwa untuk menemukan kebahagiaan sejati, kita perlu bertumbuh menjadi “orang yang kaya” bagi Tuhan dan sesama daripada menjadi kaya bagi diri kita sendiri.

Harta benda pada dasarnya bersifat sosial dan bertujuan untuk membuat manusia semakin manusiawi dan beriman kepada Tuhan. Dalam hidup meng-gereja, harta benda disebut sebagai harta benda gerejawi dan harus dimanfaatkan sesuai dengan tujuannya, yaitu memenuhi kebutuhan sarana-prasarana untuk beribadat kepada Tuhan, mencukupi kebutuhan hidup para petugas pastoral, dan berbuat amal kasih, terutama terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan. Maka, baiklah kita menggunakan harta benda/milik pribadi tidak jauh dari tujuan di atas. Semakin kita kaya akan harta benda, hendaknya kita semakin mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan dan sesama, atau semakin bersahabat dengan Tuhan dan segala ciptaan-Nya. Ingatlah bahwa “karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu” (Ef 2:8-9).

 

Comments are closed.
Translate »