Minggu, 22 Oktober 2017

Hari Minggu Biasa XXIX
Hari Minggu Evangelisasi
[Yes. 45:1,4-6; Mzm. 96:1,3,4-5,7-8,9-10ac; 1Tes. 1:1-5b; Mat. 22:15-21]

MENGGANTI KACAMA ‘NEGATIF’ DENGAN KACAMATA ‘POSITIF’

Saya mensyukuri bahwa sampai hari ini masih bisa membaca dengan normal tanpa menggunakan kacamata. Beberapa teman, ada yang mengalami kesulitan membaca kalau tidak menggunakan kacamata, entah karena ‘minus’, ‘plus’ atau bahkan kombinasi kedua-duanya atau menggunakan lensa silinder. Namun, kalau tidak menggunakan kacamata, memang akan kesulitan membaca. Apalagi teman-teman yang masih kuliah dengan mengerjakan tugas akhir berupa penulisan tesis, membaca tentu saja akan menjadi kegiatan dominan sehari-hari. ‘Kacamata’ menjadi semacam ‘juruselamat’ untuk mereka yang memiliki kekurangan soal penglihatan, dan akan selalu menyesuaikan dengan keadaan masing-masing mata. Ya itu tadi, kalau mata ‘minus’, maka lensa yang dipilih akan menyesuaikan, dan tidak mungkin akan menggunakan lensa silinder, demikian seterusnya. Karena lensa yang tepat, akan menentukan penyesuaian mata yang tepat pula, sehingga semuanya dapat berfungsi normal.

Hari Minggu ini, kita juga hendak merenungkan soal ‘kacamata’, tapi dalam arti kacamata sebagai sebuah ‘cara pandang’. Kita mengikuti sebuah kelanjutan cerita tentang rasa iri yang menimpa orang-orang Farisi terhadap Yesus. Yesus berbuat banyak hal: menyembuhkan orang sakit, melepaskan orang kerasukan roh jahat, memberi makan 5000 orang dan bahkan membangkitkan orang mati. Orang-orang Farisi ini takut tersaingi maka mereka selalu menempatkan setiap perkataan mereka dan tindakan mereka kepada Yesus dalam ‘kacamata’ iri hati. Seperti yang mereka katakan untuk mencobai Yesus: “…katakanlah kepada kami pendapatMu: apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Yesus tahu isi hati orang-orang Farisi dengan segala maksud rencana busuk mereka, maka dengan penuh hikmat, Yesus menjawab: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Dan lewat jawaban ini, ‘jebakan’ orang-orang Farisi menjadi mentah dan menemui kebuntuan.

Cara pandang kita terhadap sesuatu memang akan selalu mempengaruhi perkataan dan tindakan kita, seperti orang-orang Farisi yang selalu memakai ‘kacamata’ iri hati ketika harus menilai sosok Yesus, sehingga tak ada perkataan dan perbuatan simpatik yang mereka tunjukkan kepada Yesus. Namun, satu hal yang pasti, Yesus selalu dapat mengatasi maksud jahat tersebut, karena bagaimanapun kebenaran tidak pernah akan lekang oleh apapun. Kita diajak oleh Yesus untuk memandang segala sesuatu dari berbagai macam posisi dan dimensi, bahkan selalu memandang dalam sisi positif meski kadang ada sesuatu yang hampir tidak ditemukan sisi baiknya. Dengan menemukan sisi-sisi baik dari sebuah keadaan atau diri seseorang, kita juga belajar untuk menemukan kebaikan-kebaikan Allah dalam peristiwa kehidupan, meski secara kasat mata, hal tersebut mewujud dalam sesuatu yang tidak baik. Semoga kita mau menanggalkan ‘kacamata’ negatif kita dan menggantinya dengan ‘kacamata’ yang positif, sehingga hidup kita senantiasa memancarkan kebenaran yang datang dari Allah saja.

 

Comments are closed.
Translate »