Selasa, 21 November 2017 dalam 3 bahasa dan audio

Selasa, 21 November 2017 dalam 3 bahasa dan audio

Romo Yori Sodanango, SVD

Readings

2 Mc 6:18-31, Lk 19:1-10

Sebelum meninggal karena menolak untuk taat kepada kaisar dan hukum Yunani untuk tidak makan daging babi yang haram bagi bangsa Yahudi, Eleazar dalam kitab Makabe mengekspresikan imannya yang kuat dan teguh pada Allah: Bagi Tuhan yang mempunyai pengetahuan yang kudus ternyatalah bahwa aku dapat meluputkan diri dari maut dan bahwa aku sekarang menanggung kesengsaraan hebat dalam tubuhku akibat deraan itu. Tetapi dalam jiwa aku menderita semuanya itu dengan suka hati karena takut akan Tuhan.” Semangat takut akan Tuhanlah yang membuat dia kuat untuk menjadi martir demi membela hukum Allah. Eleazar bukan seorang tua yang haus akan pujian dan popularitas. Baginya, taat pada perintah Tuhan mestilah sebuah prioritas yang tak boleh ditawar-tawar. Dia bukan saja menjaga nama baik dan integritas pribadinya. Dia juga menolak untuk tunduk pada sistem hukum yang memperbudak kehendak bebas manusia hanya sekedar untuk menyenangkan raja. Dia tidak mau menggadaikan suara hatinya hanya demi menyenangkan hati penguasa tetapi ujung-ujungnya dia akan bergulat dengan dirinya sendiri dan Allah. Dia lebih memilih untuk menentang kekuasaan Raja yang lalim dan tiran, daripada mengkhianati hukum Allah. Dia membuktikan kepada generasi muda bahwa mempertahankan nilai kebenaran dan kesucian itu harganya mahal tetapi buahnya manis. “Berpura-pura tidaklah pantas bagi umur kami, supaya janganlah banyak pemuda kusesatkan juga, oleh karena mereka menyangka bahwa Eleazar yang sudah berumur sembilan puluh tahun beralih kepada tata cara asing.” Kitab Makabe mencatat : Demikian berpulanglah Eleazar dan meninggalkan kematiannya sebagai teladan keluhuran budi dan sebagai peringatan kebajikan, tidak hanya untuk kaum muda saja, tetapi juga bagi kebanyakan orang dari bangsanya.Sebuah contoh hidup yang semakin jarang ditemukan dalam kesaksian hidup manusia modern yang terlalu gampang memberikan toleransi murahan kepada diri sendiri supaya cari senang dan cari aman sendiri.

Zakeus dalam cara yang sama menunjukkan sikap seorang ksatria kebenaran. Dia berdiri dan mengakui kesalahan dan kekhilafannya. Dia menyatakan bahwa dia pernah jatuh, dia seorang pendosa, dia pernah mengambil hak yang bukan miliknya. Itulah masa lalunya yang kelam, yang membuat dia dibenci, yang membuat dia didiskriminasi oleh orang-orang sebangsanya. Namun kini, Zakheus si cebol, berdiri dan menyatakan ketetapan hatinya yang teguh kepada Kristus: Tuhan, separuh dari hartaku akan kuberikan kepada orang Miskin, dan jika aku sudah menggelapkan harta seseorang akan kukembalikan kepdanya empat kali lipat. Sebuah ekspresi verbal yang sangat kuat yang sekalipun tidak dikisahkan tetapi kemungkinan disusul oleh sebuah pertobatan total dari Zakeus yang tamak dan gila harta menjadi Zakheus yang bertobat dan murah hati sesudah perjumpaan penuh kasih dan kemurahan dengan Yesus.

Zakheus dan Eleazar adalah dua sosok alkitab yang memperjuangkan kekudusan dan kemurnian hidup dengan cara mengikuti Tuhan dan kehendak-Nya secara konsekuen. Eleazar konsisten menjadi teladan yang lurus bagi orang-orang sebangsanya. Zakheus membuktikan bahwa seorang berdosa yang bertobat pun mempunyai tempat di dalam kerahiman ilahi. Kedua-duanya dengan caranya masing-masing menunjukkan bahwa jalan menuju kesucian dan kemurnian itu bukan jalan yang mudah. Ada banyak tantangan dan rintangan. Namun tangan Tuhan tetap membimbing, menuntun dan menguatkan. Amin.

English Version:

Tuesday, November 21 2017 (November twenty first two thousand and seventeen)

2 Mc 6:18-31 A reading from the second Book of Maccabees,  Lk 19:1-10 .

Before the death after refusing to obey the emperor and the Greek law not to eat unclean pork for the Jews, Eleazar in the book of Maccabees expresses his strong and steadfast faith in God: For God who has a sacred knowledge it is evident that I can save myself from death and that I am now suffering a great misery in my body due to the torture. But in my soul I suffer all of it with a heartfelt fear of God. “The fear of the Lord made him strong for martyrdom in defending the law of God.  Eleazar was not an old man who was thirsty of praise and popularity. Obeying God’s commandment was an undeniable priority He not only maintained his own good reputation and integrity, but also refused to submit to the law system that enslaves the free will of the human person just to please the king. He did not want to impose his heart only to please the ruler but at the very end he would wrestle with himself and God. He chose to oppose the Ruler and the tyrant, rather than betraying the law of God. He proved to the younger generation that maintaining the value of truth and purity is expensive but its fruit is sweet. ” the pretense is not worthy of our age, so that I won’t mislead many young men, because they might think thought that Eleazar, who was ninety years old, turned to a foreign order. “The book of Maccabees notes: So Eleazar passed away and left his death as an exemplary virtue and as a warning of virtue, not only for the youth but also for most people from his country. A living example that is now rarely found in the testimony of modern life, a lifestyle that sometimes too easy to offer cheap tolerance to oneself in order to be happy and secure.

Zacchaeus in the same way shows the attitude of a knight of truth. He stood up and acknowledged his mistakes and wrongdoings.  He claimed that he had fallen, he was a sinner, he had taken the right of the people that he did not deserve. It was his dark past, which made him hated and discriminated by his people. But now, Zacchaeus standing and declaring his steadfast resolve to Christ: Lord, half of my possessions would I give to the Poor, and if I had embezzled one’s property I would return to him fourfold. A vigorous verbal expression that is not even narrated but likely to be followed by a total conversion from a greedy and stingy Zakeus to be a converted and generous Zacchaeus after a loving and magnanimous encounter with Jesus.

Zacchaeus and Eleazar are two biblical figures who fight for holiness and purity of living by following God and his will in consequence. Eleazar is consistently a straightforward example of his people. Zacchaeus proves that a repentant sinner also has a place in the divine mercy. Both in their own way show that the path to purity and sanctity is not an easy path. There are many challenges and obstacles. But God’s hand is still guiding, inspiring and strengthening. Amen.

Spanish Version:

Martes, veintiuno de noviembre dos mil diecisiete

            Antes de la muerte después de negarse a obedecer al emperador y la ley griega de no comer carne de cerdo inmunda para los judíos, Eli zar en el libro de Macabeos expresa su fe firme y firme en Dios: Para Dios que tiene un conocimiento sagrado, es evidente que yo puedo salvarme de la muerte y que ahora estoy sufriendo una gran miseria en mi cuerpo debido a la tortura. Pero en mi alma lo sufro todo con un sincero temor de Dios. “El temor del Señor lo hizo fuerte para el martirio al defender la ley de Dios. Eleazar no era un anciano sediento de elogio y popularidad. Obedecer el mandamiento de Dios era una prioridad innegable. Él no solo mantuvo su buena reputación e integridad, pero también se rehusó a someterse al sistema de leyes que esclaviza el libre albedrío de la persona humana solo para complacer al rey. No quería imponer su corazón solo para complacer al gobernante sino que al final lucharía consigo mismo y con Dios. Eligió oponerse al Gobernante y al tirano, en lugar de traicionar la ley de Dios. Demostró a la generación más joven que mantener el valor de la verdad y la pureza es costoso, pero su fruto es dulce. “El fingimiento no es digno de nuestra edad, para no engañar a muchos jóvenes, porque podrían pensar que Eleazar, que tenía noventa años, se volvió hacia una orden extranjera. El libro de Macabeos dice: Así que Eleazar falleció y dejó su muerte como una virtud ejemplar y como una advertencia de virtud, no solo para los jóvenes sino también para la mayoría de la gente de su país. Un ejemplo vivo que ahora raramente se encuentra en el testimonio de la vida moderna, un estilo de vida que a veces es demasiado fácil para ofrecer una tolerancia barata consigo mismo para ser feliz y seguro.

Zaqueo de la misma manera muestra la actitud de un caballero de la verdad. Se levantó y reconoció sus errores y malas acciones. Afirmó que había caído, que era un pecador, que había tomado el derecho de la gente que no se merecía. Era su oscuro pasado, lo que lo hacía odiado y discriminado por su gente. Pero ahora, Zaqueo estaba de pie y declaraba su resolución inquebrantable a Cristo: Señor, la mitad de mis posesiones se las daría a los pobres, y si hubiera malversado mi propiedad, volvería a él cuatro veces. Una expresión verbal vigorosa que ni siquiera se narra, pero es probable que vaya seguida de una conversión total de Zaqueo, avaricioso y mezquino, para convertirse en Zaqueo convertido y generoso después de un encuentro amoroso y magnánimo con Jesús.

Zaqueo y Eleazar son dos figuras bíblicas que luchan por la santidad y la pureza de la vida siguiendo a Dios y su voluntad en consecuencia. Eleazar es consistentemente un ejemplo directo de su gente. Zaqueo demuestra que un pecador arrepentido también tiene un lugar en la misericordia divina. Ambos a su manera muestran que el camino hacia la pureza y la santidad no es un camino fácil. Hay muchos desafíos y obstáculos. Pero la mano de Dios sigue guiando, inspirando y fortaleciendo. Amén.

Comments are closed.
Translate »