KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN BUKAN NAMAKU, TAPI NAMA TUHAN!
KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN
Sabtu, 16 Desember 2017
[Sir. 48:1-4,9-11; Mzm. 80:2ac,3b,15-16,18-19; Mat. 17:10-13]
BUKAN NAMAKU, TAPI NAMA TUHAN!
Kalau kita lihat, orang yang benar-benar kaya, biasanya justru memiliki penampilan yang sederhana dan apa adanya. Kita pasti ingat sosok Mark Zuckerberg, penggagas Facebook, yang kemana saja selalu berpenampilan kasual dan sederhana, namun di balik penampilan itu, sudah berapa banyak keuntungan dan kekayaan yang dia miliki. Namun, kadang ada juga yang sebaliknya. Orang yang sebenarnya tidak memiliki apa-apa, namun ‘berpura-pura’ menjadi orang kaya: pakaian bagus, perhiasan mahal tapi imitasi, pakaian bermerek tapi palsu dan seterusnya, sehingga orang yang melihat dan memandang akan terpesona pada penampilan. Padahal itu, hanya ‘pura-pura’ dan bukan kenyataan yang sebenarnya. Bisa dikatakan, ada orang yang kaya, tapi mentalnya sederhana, dan ada orang biasa, tapi mentalnya ‘sok’ kaya.
Hari ini kita mendengarkan kisah dua orang nabi terhormat, bukan karena kuasa dan hartanya, karena mereka justru tidak memiliki harta yang dibanggakan. Yang mereka pegang adalah tentang cara menjadi hamba Allah yang setia pada tugas dan karya. Mereka tidak pernah memikirkan penghargaan dan penghormatan, karena semua itu tidak perlu dicari dan dipikirkan. Yang justru harus dipikirkan adalah soal keselarasan hidup dengan sabda Tuhan dan segala sesuatu dilakukan demi semakin besarnya nama Tuhan sendiri. Kadang kita terjebak pada situasi ketika kita justru mencari-cari kemuliaan bagi nama kita sendiri sedangkan nama Tuhan dilalaikan. Maka, semoga melalui hidup kita, nama Tuhan selalu diwartakan meski untuk itu kita pun ikut menanggung derita, namun dia yang memiliki Kristus akan dimuliakan Allah dan dihormati selama-lamanya.
Selamat pagi, selamat memiliki Kristus. GBU.