Edisi Khusus Natal: Simeon

Edisi Khusus Natal: Simeon

RENUNGAN NATAL LUBUK HATI  

[Simeon (Lukas 2: 21-32)] 

 

Semua orang yang hidup di dunia ini pasti mempunyai banyak impian dan juga harapan yang terus menerus dikejar dalam hidupnya. Tak seorang pun mau menjalani hari-hari tanpa ada harapan yang hendak dicapai. Sebab, tanpa pengharapan orang akan menjalani hidupnya asal-asalan, monoton, tanpa dedikasi dan tanpa semangat. Hal ini karena kita tahu bahwa semua orang ingin menjadi orang yang sukses, mapan dan bermasa depan cerah. Itulah sebabnya kita mulai merancang dan merencanakan segala sesuatunya sejak dini, agar apa yang kita harapkan menjadi kenyataan. Sebagai orangtua kita pasti memiliki pengharapan yang besar terhadap anak-anak kita: sukses dalam studi dan juga karir. Begitu juga bagi orang muda, mereka memiliki harapan-harapan dalam hidupnya: pekerjaan yang mapan, punya rumah dan mobil, serta memiliki pasangan hidup sesuai yang diinginkan. Itu adalah gambaran pengharapan semua orang selama hidup di dunia ini.  Semua impian-impian atau harapan ini senantiasa mendorong orang untuk melakukan segala macam daya upaya untuk meraihnya.   

Ungkapan Simeon yang kita baca dalam bacaan hari ini merupakan ungkapan seseorang yang sungguh lepas-bebas dan puas sebab telah terpenuhi harapannya. Tidak ada pengalaman Simeon yang lain di sepanjang hidupnya, yang bisa mengalahkan pengalaman perjumpaannya dengan bayi Yesus. Simeon bersukacita karena bisa bertemu, memandang, bahkan menatang (menggendong) bayi Yesus. Simeon sangat bahagia karena terpenuhi segala pengharapan dan penantiannya yang telah puluhan tahun dia rindukan. Kebahagiaan yang dialami oleh Simeon ini merupakan pengalaman puncak yang membuatnya sampai tidak mampu merumuskan dengan kata-kata. 

Sebagai orang beriman, apakah kita pernah mengalami pengalaman puncak ini dalam hubungan kita dengan Allah? Bila kita pernah mengalaminya, kita akan mendapatkan energi yang luar biasa dalam hidup, pekerjaan, hidup berkeluarga dan pelayanan-pelayanan kita. Pengalaman puncak itu membuat kita tidak mudah putus asa, mengeluh, ngambeg, komplain, protes, tidak mau berusaha dll. Melalui pengalaman iman Simeon yang kita dengarkan hari ini, kita diajak untuk senantiasa mensyukuri setiap pengalaman hidup kita sebagai anugerah dari Allah. Semoga hidup, penggilan, keluarga dan karya pelayanan kita senantiasa dalam lindungan dan bimbingan Allah. Tuhan memberkati. 

 

Fr. Peter Prasetyo, MSF. 

 

Comments are closed.
Translate »