Hana
Hana

Lukas 2: 36-40
Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.
Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.
Kalau and menonton video ini https://www.youtube.com/watch?v=24VU2U8DxW0, mungkin and dapat membayangkan reaksi Hana ketika Yusuf dan Maria membawa bayi Yesus ke dalam Bait Allah. Ada suatu kegembiraan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Hana memuji Allah dengan seluruh kekuatan seorang manula berusia 84 tahun. Mungkin ia pun tergerak untuk menari. Ia menghampiri semua orang dan menyebarkan kabar sukacita tentang kelepasan untuk Yerusalem.
Apa kiranya yang membuat Hana bereaksi begitu kuatnya? Ia seorang janda yang mengabdikan hidupnya untuk berpuasa dan berdoa di Bait Allah. Seperti orang-orang Yahudi pada jamannya, ia menantikan kedatangan sang Mesias keturunan David yang dijanjikan oleh para nabi. Ia menanti kebebasan Israel dari penjajahan Romawi. Ia mendambakan berkuasanya kembali kerajaan Allah yang penuh dengan damai (shalom).
Kata “damai” dalam bahasa kita tidak mencakupi seluruh aspek dalam kata shalom dalam bahasa Ibrani. Shalom tidak hanya berarti damai dan bebas dari peperangan atau kekerasan. Shalom mengandung arti “kepenuhan” atau “kesempurnaan,” di mana semua hubungan berjalan serasi sesuai dengan rencana Allah. Nabi Yesaya menggambarkan situasi itu sebagai berikut: “Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama… Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.” (Yesaya 11:6-9)
Di dalam dunia di mana kita hidup sekarang ini, mungkin sangat sulit membayankan kepenuhan damai atau shalom Tuhan. Mungkin yang bisa kita lakukan sementara ini adalah memusatkan perhatian kita pada “bayi Yesus” kecil yang datang menghampiri hidup kita. Dalam hal ini, kita bisa dibantu oleh “Hana” lain di dalam Bait Allah.
Di banyak gereja di Amerika ini sering saya temui para perempuan lanjut usia yang setia datang ke misa harian dan devosi pribadi atau komunal. Mereka tidak jauh berbeda dari Hana yang hidup, berdoa, dan berpuasa di Bait Allah. Dan sama seperti Hana, mereka pun menantikan kepenuhan kuasa Allah di dunia ini, baik dalam diri dan keluarga mereka, ataupun di dalam lingkungan tempat mereka hidup. Mereka jugalah yang pertama kali bersyukur ketika suatu hal baik terjadi di lingkungan paroki. Mungkin ada pasutri yang akan menikah atau baru melahirkan. Mungkin juga kabar baik itu adalah seorang putra paroki yang terpanggil menjadi imam. Mereka dengan sukacita merayakan kehadiran Allah dalam hidup komunitas kita, sekecil apapun tandanya.
Semoga dengan memperhatikan dan menghargai para “Hana” di lingkungan kita, kita juga menjadi sigap akan segala tanda Imanuel, bahwa Allah beserta kita. Di tengah dunia yang terkesan penuh dengan berita buruk dan mengecilkan hati, kita berpaling kepada para “nabi” dalam hidup kita yang dapat menunjukkan kehadiran Allah. Marilah kita bergabung dengan pujian dan tarian mereka.