KAMIS PEKAN BIASA V TH I
KAMIS PEKAN BIASA V TH I
(1 Raja-raja 11:4-13; Markus 7:24-30)
Kalau kita simak dan perhatikan baik-baik peristiwa perjumpaan antara Yesus dengan perempuan dari Siro-Fenesia tersebut, ada beberapa hal yang pantas kita catat. Perempuan itu merendahkan dirinya serendah-rendahnya di hadapan Yesus. Bukan saja dengan datang dan tersungkur di depan kaki Yesus — yang menandakan sikapnya untuk mempasrahkan hidup dan matinya kepada Yesus — lebih dari itu, ia menyatakan bahwa dirinya rela untuk diperlakukan seperti apapun, mau, siap, dan terima. Karena dia menyadari bahwa dirinya salah, dirinya sangat memerlukan bantuan serta belaskasihan Yesus. Dia menerima kata-kata Yesus itu sebagai sebuah kenyataaan hidupnya.
Penilaian atas dirinya itu semua tidak menggoyahkan kepercayaan perempuan tersebut kepada Yesus, tidak menyurutkan niatnya untuk bertemu Yesus dan memohon kesembuhan bagi anak perempuannya yang kerasukan setan. Dari sinilah Yesus melihat iman kepercayaan yang besar, yang luar biasa! Semua itu ditunjukkan dengan kata-katanya di hadapan Yesus. Dan Yesus mengabulkan permohonannya: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang, sebab setan itu sudah keluar dari anakmu!”
Bacaan Injil hari ini mengajari kita agar belajar untuk menjadi orang yang selalu berkata dan bersikap positif, tidak peduli dalam suasana yang tidak menguntungkan atau tidak kondusif. Karena bagi perempuan itu, kesembuhan anaknya jauh lebih penting daripada reaksi orang terhadap usahanya mencari kesembuhan bagi anaknya. Dengan kata-kata positif, seseorang dapat mengubah dunia. Kata-kata positif selalu dapat menumbuhkan diri sendiri maupun orang lain. Tuhan Yesus sangat menghargai kata-kata yang diucapkan perempuan itu. Maka dengan tegas, Yesus menjawab kerinduan yang amat mendalam dari perempuan itu,
ialah menganugerahkan kesembuhan kepada anak perempuannya yang kerasukan setan.
Bagaimana seseorang bisa memiliki kata-kata positif tersebut? Kata-kata positif akan keluar dari seseorang yang dewasa secara mental dan iman. Mental meliputi: keadaan batin, cara berpikir, cara berperasaan. Dan iman meliputi: penyerahan, harapan dan kepercayaan. Kematangan mental dan iman hanya akan dimiliki oleh orang yang mempunyai relasi dekat dengan Allah. Maka marilah kita tidak jemu-jemu selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Namun kedekatan hubungan manusia dengan Allah ini mengandaikan syarat, bahwa orang tersebut juga harus memiliki kedekatan hubungan dengan sesamanya, dengan orang-orang yang ada di dekatnya, antara lain: keluarganya, kerabatnya, tetangganya, teman kerjanya. Semoga kita dimampukan untuk bersikap positif dan membawa kebaikan dari Tuhan kepada banyak orang disekitar kita.