Berdoa adalah Berdialog dengan Allah
Selasa, 20 Februari 2018
Hari Biasa Prapaskah I
Bacaan I Yesaya 55: 10-11
Bacaan Injil Matius 6: 7-15
Berdoa adalah Berdialog dengan Allah
William A. Barry, SJ, seorang imam Jesuit, dalam bukunya berjudul “Berdoa dengan Jujur” mengatakan doa adalah hubungan yang disadari untuk menemukan Allah dalam segala hal dan memperdalam hubungan dengan Allah. Maka, berdoa membutuhkan kejujuran dan keterbukaan kepada Allah. Keindahan doa tercermin dari apakah seseorang itu bisa merasakan kebahagiaan dalam percakapan intim dan rohani kepada Allah atau justru sebaliknya? Apapun cara berdoa yang dipilih setiap pribadi, harusnya tumbuh dari kesadarannya menjalin relasi intim dengan Allah. Bacaan Injil hari ini mengajarkan tentang doa yang tidak membutuhkan banyak kata. Allah tidak berkenan pada banyaknya kata yang didaraskan, tetapi justru berkenan pada sikap berserah diri dan keyakinan iman yang kuat. Ada sebuah fenomena yang terjadi di berbagai tempat, misalnya jika sedang masa ujian maka banyak anak sekolah yang berbondong-bondong ikut misa pagi; saya dulu berbuat demikian juga. Ini tidak salah. Namun, rasa-rasanya menggambarkan betapa kita datang kepada Tuhan, berdoa kepada-Nya, memohon dengan kesungguhan hati hanya terjadi ketika kita sedang ditimpa kesusahan hidup. Bahwa Allah itu seperti Biro atau Lembaga Kemasyarakatan yang siap memberi solusi atas segala kesulitan kita. Dengan demikian, doa-doa yang kita persembahkan kepada Tuhan masih didominasi oleh sikap pamrih dan menuntut.
Yesus mengajarkan bahwa berdoa pertama-tama bukan untuk meminta, memohon atau menuntut Allah agar berkenan mengabulkan permintaan kita; melainkan pada kesadaran memuliakan nama Allah dengan kerendahan hati kita. Sebagai doa yang sempurna, doa Bapa Kami melukiskan cara berdoa yang sederhana tetapi bermakna. Doa adalah pujian kepada-Nya, seperti sembah sujud seorang pegawai istana kepada rajanya. Ungkapan pujian ini menjadi ucapan syukur kita atas nikmat ilahi yang diberikan dari Allah. Di sinilah keyakinan iman menjadi pondasi kokoh untuk mengalami sikap berserah diri seutuhnya pada rencana Allah. Terakhir, sebagai sebuah percakapan rohani dengan Allah, sudah seharusnya doa menjadi kesempatan kita untuk mendengar suara Allah. Doa adalah dialog, bukan monolog dari kita sendiri yang mengabaikan suara Allah. Maka, semoga kita semakin menyadari bantuan Roh Kudus agar akhirnya kita mampu berdoa dengan benar dan memberi semangat hidup baru dalam kasih kuasa Allah. Semoga, Tuhan memberkati kita semua.