Menjadi Seperti Penduduk Niniwe

Menjadi Seperti Penduduk Niniwe

Rabu, 21 Februari 2018

Hari Biasa Prapaskah I

Bacaan I Yunus 3: 1-10

Bacaan Injil Lukas 11: 29-32

Menjadi Seperti Penduduk Niniwe

Yunus diutus Allah ke kota Niniwe untuk menyerukan pertobatan. Seruan kenabian Yunus ini disambut antusias oleh rakyat Niniwe, sehingga mereka dengan rela hati memasuki rahim pertobatan. Apa yang dilakukan penduduk Niniwe membawa keselamatan bagi mereka dan keturunannya. Dengan pertobatan, mereka memberi kesaksian betapa Allah adalah Maharahim. Kerahiman Allah tidaklah terbatas. Allah menghendaki setiap orang selamat yang mana keselamatan itu terangkum dalam pribadi Yesus Kristus. Kedatangan Yesus bukan hanya sebatas tanda-tanda, melainkan adalah kepenuhan keselamatan yang kekal dari Allah. Percaya kepada Yesus menjadi sumber segala keselamatan bermula. Namun, sebagaimana orang Yahudi yang dikatakan dalam Injil, terkadang manusia susah untuk percaya sedemikian rupa kepada Yesus. Terlalu banyak rasio, egoisme dan kesombongan yang menciptakan suasana bermegah diri. Maka, sebetulnya, masa Prapaskah ini menjadi waktu yang cocok bagi kita untuk merendahkan diri, instropeksi diri dan berefleksi apakah selama ini aku sudah mampu percaya sepenuh-penuhnya pada kehendak Allah, atau justru aku seringkali mengandalkan diri dan mengabaikan peran Allah bagiku?

Dua macam kelompok yang berbeda tercermin dalam bacaan hari ini, yaitu penduduk Niniwe dan masyarakat Yahudi. Penduduk Niniwe adalah mereka yang benar di mata Allah karena merelakan diri untuk bertobat. Kendati mereka lebih berdosa dari orang Yahudi, tetapi mereka masih mau dibentuk dan dibina oleh Allah. Hal itu berbeda dengan masyarakat Yahudi dimana mereka mempertanyakan tanda keselamatan, padahal keselamatan itu sudah hadir di hadapan mereka dalam diri Yesus Kristus. Masyarakat Yahudi terlalu dikuasai rasio dan idealisme mereka sehingga susah untuk diajak mengandalkan kekuatan Allah. Sikap-sikap egoisme semacam itulah yang patut kita sesali di masa Prapaskah ini. Bagi saya, mengandalkan diri sendiri itu mudah dan nyaman, tetapi kenyamanan tersebut hanya sementara karena tidak semua lika-liku hidup bisa saya kuasai. Hanya Allah sebagai pemilik kehidupan ini mampu menguasai. Semoga, masa Prapaskah ini membuahkan kebaruan hidup yang membuat kita mampu bertobat dengan sungguh-sungguh seperti penduduk Niniwe. Mari, kita mohon rahmat kepada Allah. Semoga, Tuhan memberkati kita semua.

Comments are closed.
Translate ยป