Mengasihi Musuh

Mengasihi Musuh

Sabtu, 24 Februari 2018

Hari Biasa Prapaskah I

Bacaan I Ulangan 26: 16-19

Bacaan Injil Matius 5: 43-48

Mengasihi Musuh

Ketika meresapkan ajaran Yesus tentang mengasihi musuh-musuh kita, saya merasa itu tidaklah mungkin. Bagaimana bisa mengasihi mereka yang telah mengecewakan, merugikan dan melukai kita? Namun, Yesus memberi teladan di luar ekspektasi, yaitu sungguh mengasihi mereka yang membuat-Nya menderita. Sabda Yesus tatkala di salib, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” bermakna bahwa Yesus tidak menaruh dendam terhadap mereka yang telah membawa-Nya dalam penderitaan. Pilihan sikap dari Yesus ini menjadi keutamaan kristiani yang semakin bertumbuh subur, terutama di Indonesia dengan aneka macam karakteristiknya. Rasa saya, keutamaan tersebut sudah coba diwujudkan oleh umat katolik dan menjadi milik yang harus dipertahankan. Kekayaan kita sebagai Gereja bukan terletak pada harta benda yang megah tetapi pada keutamaan-keutamaan hidup yang bersumber dari ajaran Sang Teladan Yesus Kristus.

Saya punya teman di sekolah yang sering dijadikan sasaran ejekan dalam suasana canda. Tidak jarang ejekan-ejekan yang diterimanya sungguh tajam dan menyakitkan, tetapi dia masih tetap bisa tersenyum dan gembira. Ketika saya tanya bagaimana cara bisa sedemikian sabar atas realita hidupnya, dia menjawab, “Kalau kita diejek secara menyakitkan, bersyukurlah bahwa sebenarnya kita sedang diperhatikan. Bahwa mereka yang mengejek kita itu sudah berusaha kenal dengan kita, maka harusnya kita berterima kasih kepadanya atas perhatiannya yang begitu besar”. Memang, teman saya itu pada akhirnya tidak mempunyai musuh, justru dia menjadi orang yang mampu menjadi teman untuk siapapun. Ada berbagai macam cara untuk mendoakan orang-orang yang telah membuat kita sakit dan menjadi musuh kita. Semua itu tergantung dari hati kita. Ini bukanlah sebuah tindakan yang mudah, tetapi jika kita mampu melakukannya maka kita boleh berbangga diri bahwa kita adalah salah seorang yang pantas menjadi murid Tuhan. Memang terkadang ajaran-ajaran Yesus itu di luar ekspektasi kita, karena sekaligus mengajak kita untuk menyerahkan niat kepada kehendak Allah. Karena, ketika manusia mengatakan “mustahil”, bagi Allah hal itu adalah sebuah “kemungkinan”. Kita mohon rahmat Allah agar mampu meresapi Sabda Yesus dengan penuh kesadaran dan penyerahan diri. Semoga, Tuhan memberkati kita semua.

Comments are closed.
Translate »