Pembawa Damai
Jumat, 23 Februari 2018
Hari Biasa Prapaskah I
Bacaan I Yehezkiel 18: 21-28
Bacaan Injil Matius 5: 20-26
Pembawa Damai
“Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan”. Seruan perdamaian yang diajarkan Yesus itu kiranya menjadi bahan kita untuk merenungkan sejenak kualitas kita sebagai saudara bagi orang lain. Tidak dapat dipungkiri bahwa konsekuensi identitas kita sebagai manusia adalah hidup bersama orang lain. Tidak mungkinlah kita mampu bertahan hidup tanpa bantuan orang lain, pun akhirnya kita juga tergerak untuk membantu orang lain. Karena kebersamaan dengan banyak orang itulah maka potensi untuk konflik, beda pendapat dan beradu idealisme terbuka lebar. Adalah manusiawi jika kita terjerat dalam aneka konflik dengan orang lain, atau bahkan dengan anggota keluarga kita sendiri. Aneka konflik itu ikut mengembangkan karakter khas diri kita masing-masing. Disebut “mengembangkan” karena pada hakekatnya yang bisa diambil dari konflik adalah bagaimana cara kita untuk bersama-sama menemukan solusi dan perdamaian. Konflik adalah semacam jembatan yang menyeberangkan kita menuju tanah seberang. Sebagai jembatan, konflik memuat bahaya jika kita tidak hati-hati mengolahnya. Bisa jadi kita terjatuh, frustasi atau malah menjadi ragu-ragu untuk melangkah. Hari ini, Yesus mengajak kita untuk mempunyai keberanian melangkah, menyeberangi konflik agar sampai pada perdamaian.
Tidak ada orang yang menolak kedamaian, kecuali jika dirinya dikuasai oleh nafsu kejahatan. Kedamaian ibarat “surga” di bumi dimana kita bisa hidup dengan tenang dan teduh. Namun, kerapkali kita susah untuk menciptakan perdamaian. Dan, jika kedamaian belum tercipta, terkadang kita justru menyalahkan orang lain sebagai penyebab hilangnya suasana damai itu. Yesus membuka mata hati kita bahwa mewujudkan perdamaian itu bukan urusan orang lain, tetapi adalah kewajiban kita. Berdamai merupakan refleks yang harusnya kita miliki sebagai ciri khas pengikut Yesus. Sebelum menyalahkan orang lain, ada baiknya kita melihat diri sendiri kalau-kalau kita juga mempunyai kelemahan. Mudahnya begini: dalam segala macam situasi sebaiknya kita tetap melihat bahwa masih tetap ada kebaikan pada diri orang lain. Damai dimulai dari bagaimana kita mampu ber-positive thinking terhadap orang lain. Memang, setiap wajah punya kisah; dan, untuk itulah kita terpanggil untuk menikmati kisah-kisah setiap wajah demi terciptanya persaudaraan yang mendamaikan. Yakinlah bahwa kita mampu menjadi pembawa damai dimanapun kita berada. Semoga, Tuhan memberkati kita semua.