Diberi untuk Berbagi
Diberi untuk Berbagi
Yohanes 6:1-15
Injil hari ini mengisahkan penggandaan roti yang dilakukan Yesus untuk memberi makan 5000 orang laki-laki. Peristiwa penggandaan roti adalah tanda keempat yang muncul dalam Injil menurut Yohanes. Ini adalah satu-satunya kisah mukjizat yang ditemukan dalam keempat Injil.
Dari hati yang tanpa pamrih seorang bocah, Yesus secara ajaib melipatgandakan lima roti jelai serta dua ikan dan memberi makan lebih dari lima ribu orang. Bahkan, mereka masih mengumpulkan sisanya sebanyak 12 bakul penuh.
Dalam perikop ini kita diajak untuk merenungkan bahwa Tuhan memberi lebih dari yang kita butuhkan untuk diri kita sendiri sehingga kita dapat memiliki sesuatu untuk dibagikan kepada orang lain, terutama mereka yang membutuhkan. Tuhan mengambil sedikit dari yang kita miliki dan mengalihkannya untuk kebaikan orang lain. Apakah kita percaya pada penyelenggraan Ilahi dalam hidup kita dan apakah kita berbagi secara iklas dengan orang lain, terutama mereka yang membutuhkan?
Hal lain yang menarik perhatian saya ketika merenungkan perikop ini adalah tindakan Yesus yang bertanya kepada Filipus, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Mengapa Yesus menguji Filipus? Jawaban yang paling masuk akal, sesuai dengan permenungan saya, kemungkinan karena Filipus ragu dan sangsi dan Yesus mengetahui hal itu.
Saudara-saudari terkasih, sebagai manusia adalah wajar kalau kita memiliki keraguan atau sangsi akan sesuatu. Tetapi dalam konteks Filipus sepertinya lain. Mengapa? Seperti saya jelaskan diawal bahwa peristiwa penggandaan roti ini merupakan mukjizat keempat yang dilakukan oleh Yesus dalam Injil Yohanes, setelah: Peristiwa Kana; Yesus menyembuhkan anak pegawai istana; dan Penyembuhan pada hari Sabath di kolam Betesda. Maka, keraguan Filipus ‘diluar wajar’ karena seharusnya dia ingat akan ketiga mukjizat sebelumnya dan percaya bahwa Yesus akan berbuat sesuatu yang ‘menyelamatkan’.
Pertanyaan bagi kita masing-masing: apakah kita pun seringkali seperti Filipus yang ragu? Kita terkadang tidak sabar dan ragu apakah Yesus akan mengabulkan doa-doa kita, apakah Yesus tahu kesusahan kita?
Selanjutnya, kepergian Yesus menuju gunung seorang diri setelah peristiwa itu juga merupakan teladan yang bisa kita tiru dalam hidup harian kita. Tentu saja orang banyak takjub kepada Yesus setelah Dia melakukan banyak Mukjizat. Maka sekarang saatnya mereka untuk memuji dan meninggikan Yesus. Sesuai dengan kerendahan hati-Nya dan karakter-Nya Yesus berjalan pergi ke gunung seorang diri mungkin untuk berdoa dan bersyukur kepada Tuhan atas berkat keajaiban yang telah diberikan kepada-Nya.
Dalam hal ini kita melihat betapa berbedanya Yesus dari kita, kita menyukai ketika kita dihormati, dipuji atas hal-hal yang kita lakukan. Terkadang bahkan kita ingin orang melihat apa yang kita lakukan dan kita berharap mereka memuji kita. Mari kita semua bangun dari sikap egois dan cinta diri ini. Tuhan memberkati doa-doa dan niat kita. Amin