Karunia Nasehat (Counsel)
Sabtu, 12 Mei 2018
Kisah Para Rasul 18:23-28
Mazmur 47
Yohanes 16:23-28
Dalam bacaan dari Kisah Para Rasul hari ini kita diperkenalkan kepada seorang tokoh baru: Apolos. Ia digambarkan sebagai seorang yang sangat pintar, menguasai Kitab Suci, telah menerima ajaran Yesus, dan sekarang berapi-api menyebarkan kabar baik tentang Yesus. Tapi setelah semua itu, masih ada sesuatu yang kurang. Disebutkan bahwa ia “hanya mengetahui tentang baptisan Yohanes.” Karena itulah kemudian pasangang suami-istri Priskila dan Akwila mengundang Apolos ke rumah mereka untuk meluruskan pengertiannya tentang ajaran Allah.
Saya kadang melihat bagaimana bersemangatnya beberapa orang yang baru menjadi Katolik, terutama mereka yang berasal dari Protestan Pentekosta atau Evangelical. Tapi saking berapi-apinya, kadang mereka melupakan banyak tradisi dan pengalaman menggereja yang sudah dialami oleh para pendahulu kita dalam iman. Di sinilah dibutuhkan kerendahan hati untuk menerima nasehat, menyadari bahwa sepintar-pintarnya kita tidak ada yang sempurna di hadapan Allah. Gereja Katolik mengutamakan komunitas, bukan hanya sepelintir tokoh-tokoh yang mengklaim sebagai pemimpin atau ahli dalam iman. Ajaran Gereja yang sejati selalu didasarkan pada pengalaman dan nasehat orang-orang dari lapisan masyarakat yang paling bawah. Kita tidak akan bisa maju jika kita seperti hidup di awan dan hanya berpikir untuk diri sendiri.
Kerendahan hati untuk menerima nasehat hendaknya menjadi kebiasaan kita semua dalam Gereja. Hanya dengan inilah kita dapat menjadi komunitas yang penuh damai, saling menghormati, dan berkembang. Ironisnya, kita lihat di kemudian hari, kelompok pengikut Apolos berseteru dengan kelompok Paulus. Karunia untuk mendengarkan nasehat satu sama lain tidak lagi dihargai dan dipakai dalam Gereja di Korintus saat itu. Supaya kita bisa belajar dari pengalaman itu, dalam Gereja kita masing-masing semoga kita bisa memperkokoh persatuan dan membuka diri untuk orang lain.