SETIA DALAM PANGGILAN BERKELUARGA
RENUNGAN LUBUK HATI
Jumat, 25 Mei 2018
SETIA DALAM PANGGILAN BERKELUARGA
Yak 5:9-12
Mrk 10:1-12
Yesus Kristus menaruh perhatian yang sangat besar pada keluarga. Oleh karena itu Dia menyatakan bahwa “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Dengan demikian pernikahan bukan sebatas urusan manusia semata, namun hal itu adalah peristiwa iman. Dengan iman, orang memandang bahwa kehadiran pasangannya adalah anugerah dari Allah. Karena itu yang menjadi kasih dan kesetiaan kepada pasangan didasarkan pada iman kepada Allah. Karena cinta kepada Allah maka ia setia dan mengasihi pasangannya.
Dengan iman tersebut, maka pertanggungjawaban masing-masing pasangan ditujukan kepada Allah dan bukan pada manusia. Ikatan yang didasarkan pada iman menjadi fondasi ikatan kesetiaan pasangan dalam keluarga. Oleh karena itu relasi dengan Kristus atau hidup rohani menjadi sumber kekuatan, kasih dan kesetiaan masing-masing pasangan dalam perjalanan berkeluarga. Ketika kekuatan Allah bekerja maka tidak ada yang mustahil, sehingga keluarga tersebut akan mampu melewati perjalanan suka-duka sebagai suami-istri.
Kebahagiaan dalam keluarga terwujud saat mereka bisa saling berbagi, menerima, melengkapi, memahami dan mengasihi pasangannya karena penghayatan iman mereka. Tanpa iman, maka relasi mereka hanya sebatas pada relasi fisik. Jika hanya fisik atau jasmani maka relasi mereka akan sangat rapuh karena apa yang materi dan fisik akan memudar dan hancur. Oleh karena itu Kristus ingin bahwa masing-masing keluarga mendasar relasi pasangan dalam keluarga pada iman kepada Kristus.
Marilah berdoa,
Allah yang maha Kasih, Engkaulah sumber hidup kami. Berjalan bersamaMu menjamin kami untuk hidup setia dalam panggilan menjadi pewarta kebaikanMu. Kami bersandar kepada Mu, karena tanpa Dikau kami bukanlah apa-apa. Dimuliakanlah NamaMu dalam seluruh perjalanan hidup kami. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.