BELAJAR DARI ANAK
RENUNGAN LUBUK HATI
Sabtu, 26 Mei 2018
BELAJAR DARI ANAK
Yak 5:13-20
Mrk 10:13-16
Yesus menerima anak-anak, dan memberkati mereka. Kepedulian Yesus pada anak bukan berhenti pada kepedulian namun juga mengandung pesan bahwa sikap hidup anak yang polos, apa adanya, jujur, tulus dan penuh kepasrahan menjadi sikap dasar yang penting sebagai orang beriman agar bisa mengalami kehadiran Allah yang penuh damai dalam kehidupan sehari-hari. Yesus mengangkat anak kecil untuk menunjukkan sikap yang benar dalam menjalin relasi dengan Allah dan sesama.
Semakin bertambah usia dan semakin bertambah keahlian, kedudukan, dan kekayaan apakah otomatis orang semakin dewasa dalam iman? Pertumbuhan iman bisa berhenti jika segala yang dimiliki oleh manusia membuat dirinya lupa akan Allah dan menjadi sombong. Oleh karena itu tidak menjamin jika segalanya sudah dimiliki oleh manusia menjamin hidupnya semakin dekat dengan Allah dan semakin solider dengan sesamanya.
Kedewasaan iman tergantung pada kedalaman relasi dengan Kristus. Relasi yang dijalin dalam proses waktu yang panjang, dimana terjadi pergulatan yang tidak mudah, namun karena kesetiaan, akhirnya membuat pribadinya menjadi kuat dan menjadi terbuka akan rencana/kehendak Allah. Menjadi orang beriman tidak bisa dengan cara kilat/instan. Pergulatan yang panjang adalah sarana dan cara iman dimunikan dan orang beriman dididik menjadi pribadi yang ulet, sabar dan setia. Belajar dari sikap hati anak, kita bisa melihat bahwa ketulusan, kerendahan hati, kepasrahan, kejujuran, dan ketaatan menjadi keutamaan yang harus dimiliki setia orang beriman.
Marilah berdoa,
Allah yang Maha kasih, ajarilah kami menjadi rendah hati, agar kami mampu menjadi pribadi yang siap untuk dibentuk dan diubah seturut dengan kehendak Mu. Sebab hanya melalui Dikaulah kami menemukan kekuatan, kedamaian dan keselamatan. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami, Amin.