Menciptakan Kebaikan
Senin, 18 Juni 2018
Hari Biasa XI
Bacaan I 1Raj 21: 1-16
Bacaan Injil Matius 5: 38-42
Menciptakan Kebaikan
Farid Stevy Asta, seorang seniman dan musisi kota Yogyakarta, pernah menulis puisi demikian, “Di masa kau terlahir, orang-orang bersepakat bahwa ajaran terpopuler adalah membenci. Ajaran ternorak adalah mencintai. Batu, parang dan peluru adalah jajanan laris manis. Cium dan peluk adalah jualan yang tak pernah laku lagi. Semakin kita membenci, semakin kita diakui. Semakin kita mencintai, semakin kita dijauhi. Kita terlahir di masa maha benci”. Apa yang ditulis Farid menggarisbawahi tentang zona kehidupan saat ini yang mudah disulut untuk berbuat onar, jahat dan mengacaukan. Begitu gampang orang terprovokasi untuk saling membenci dan menjatuhkan sesama demi suatu kepentingan golongan tertentu. Sosok-sosok macam itu kita temukan dalam diri Izebel yang secara licik dan kejam membunuh Nabot demi membantu Ahab mencapai rencananya. Fenomena itu menggambarkan bahwa hukum rimba yang seharusnya terjadi dalam dunia kebinatangan, telah diadaptasi sedemikian rupa ke dalam dunia manusia.
Maka, kebaikan sepertinya menjadi barang yang mahal. Kendati setiap agama mengajarkan untuk berbuat baik dan menjadikan kebaikan sebagai komoditi utama ajarannya, tetapi kelestarian kebaikan sangat bergantung pada pribadi setiap pemeluk agama. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara kita untuk berbuat baik? Yesus mengajarkan bahwa berbuat baik dimulai dari keikhlasan batin untuk saling memberikan diri. “Janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu”, itulah ajaran yang perlu kita terapkan. Artinya, kejahatan tidak perlu dilawan dengan kejahatan karena jahat itu pada dasarnya memang hendak membuat kekacauan. Namun, jika kejahatan dibalas dengan tetap berbuat baik, maka kekacauan tidak akan terjadi. Ajaran-ajaran kebaikan yang tertulis dalam Injil hari ini rasa-rasanya memang ekstrim; tetapi, jika kita mau melakukannya dengan ikhlas hati, maka kita pasti akan menerima betapa mudah menciptakan harmonisasi. Bekerja ikhlas tanpa pamrih, saling perhatian, rela mengampuni, setia kawan dan mudah bersyukur adalah beberapa hal dasar untuk membangun kebaikan dalam hidup kita.
Memang, membangun kebaikan bukanlah sebuah proses instant; kebaikan disusun dari kebiasan rutin yang butuh proses pertumbuhan. Ketekunan berbuat baik adalah modal yang cukup untuk melahirkan kehidupan memasyarakat kita lebih indah. Pertanyaan bagi kita: sudahkah aku berbuat baik hari ini? Apakah aku lebih banyak berbuat baik atau justru lebih sering berbuat jahat, kasar dan keras kepala?