Masih Mampukah Aku Mengasihi?

Masih Mampukah Aku Mengasihi?

Selasa, 19 Juni 2018

Hari Biasa XI

Bacaan I 1Raj 21: 17-29

Bacaan Injil Matius 5: 43-48

Masih Mampukah Aku Mengasihi?

Tindakan mengasihi tak pernah mengenal batasan. Kasih menjadi pendobrak batas-batas yang diciptakan manusia. Memang, sejak kecil kita diajari oleh kehidupan untuk membuat batasan tertentu. Misalnya, ketika SD diharuskan untuk tidak bergaul dengan mereka yang nakal dan urakan; ketika sudah agak besar, diwajibkan untuk memilih teman yang baik dan sopan; ketika sudah berelasi dengan masyarakat, secara naluriah kita akan mendekati mereka yang bersikap ramah kepada kita atau bahkan yang seagama dengan kita. Hidup terkotak-kotak dalam sekat yang membuat kita nyaman berada di suatu kelompok tertentu. Kalau sekadar nyaman saja sih rasanya tidak bermasalah, tetapi ada kalanya kenyamanan itu membuat kita menjadi orang yang fanatik. Fanatisme yang sempit tentu menjadi penghambat suburnya keadilan, kesejahteraan bersama dan kerukunan. Membela kelompok kita, agama kita atau saudara kita adalah reaksi yang umum untuk memperlihatkan betapa batas-batas tak pernah lepas dari kehidupan.

Hari ini Yesus mengajak kita untuk berani mendobrak batasan-batasan itu dengan perbuatan kasih. Mengasihi adalah tindakan luhur yang wajib dilakukan oleh pengikut Kristus. Karena hanya dengan kasih itulah, kita bisa merangkai keindahan hidup bersama. Poin tertinggi mengasihi terletak pada bagaimana kita mampu mengasihi mereka yang membenci kita atau katakanlah sebagai musuh kita. Ini hal tersulit dalam adegan mengasihi. Butuh keberanian, motivasi, modal dan tentu saja niat yang militan. Kasih demikian menggambarkan tentang ketiadaan pamrih. Kasih menjadi luhur karena tidak terobsesi pada keuntungan tertentu, melainkan pada citarasa pengorbanan sebagaimana telah Kristus lakukan untuk penebusan umat-Nya.

Tengok saja pengalaman para korban pengeboman oleh teroris di Surabaya sebulan silam. Mereka adalah tokoh-tokoh teladan dalam tindakan mengasihi. Dengan ikhlas dan kesungguhan hati, mereka memberi ampunan kepada para teroris. Yang membuat saya semakin trenyuh adalah seorang korban mengatakan, “Saya mengampuni mereka karena demikianlah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam agama saya”. Karena kasih yang mereka lakukan itulah, maka ajaran Yesus semakin meluas dan dipahami oleh semakiin banyak orang. Tantangan untuk mengasihi semakin kuat ketika hidup kita bertatapan dengan kesusahan dan penderitaan. Pertanyaan untuk kita renungkan yakni masih mampukah aku melihat dan merasakan kasih Tuhan dalam pengalaman-pengalaman hidup yang pahit, susah dan sulit?

Comments are closed.
Translate »