SENIN PEKAN BIASA XXII Th II
SENIN PEKAN BIASA XXII Th II
1 Korintus 2:1-5; Lukas 4:16-30
Pada suatu ketika, saya bersama teman saya pergi menghadiri suatu seminar. Pada sesi pertama, semua peserta sangat antusias. Tetapi giliran pembicara kedua akan naik panggung, hampir separo pendengar pulang meninggalkan seminar itu. Ketika saya tanyakan sebabnya, sebagian orang yang pulang itu menjawab: “Ah…kalau bapak itu yang ngomong pasti membosankan dan yang diomongkan paling hanya itu-itu aja…!”.
Hari ini kita mendengarkan pengalaman Yesus yang ditolak oleh orang-orang sekampungnya. Mereka bukanlah orang-orang yang tidak mendengar tentang peristiwa-peristiwa ajaib yang telah dibuat Yesus di kota-kota lain. Meraka paham betul bahwa Yesus adalah tokoh terkenal yang dielu-elukan banyak orang. Namun mengapa orang-orang sekampung Yesus menolakNya? Tidak lain dan tidak bukan karena orang-orang itu mengenal Yesus sejak kecil dan seluruh keluargaNya. Mereka tidak percaya bahwa Yesus mampu berbuat seperti yang diceritakan banyak orang. Yesus itu khan orangnya begini dan begitu, anaknya Yusuf yang hanya tukang kayu, masih saudara dengan ini dan itu, dst….dst….. Gambaran akan latar belakang Yesus yang telah mereka kenal sejak kecil itu memunculkan cap tersendiri dan tidak dapat diubah lagi. Kalau kecilnya dulu begini, setelah besar paling-paling ya…..seperti itu saja!!!
Kita seringkali juga mudah membuat stereotip atau cap-cap tertentu kepada orang lain. Tindakan penghakiman kita ini dapat membuat orang tersebut menjadi “lumpuh”. Kita tahu bahwa menusia itu adalah makhluk yang dinamis yang dapat berubah setiap waktu karena mampu belajar dari pengalamannya. Saat ini kualitas diri saya seperti A, barangkali1 atau 2 jam berikutnya saya dapat berubah karena perjumpaan atau pun pengalaman baru yang saya alami. Oleh karena itu, hari ini
kita diajak oleh Tuhan Yesus untuk berfikir positif. Percayalah bahwa anak-anak kita, teman-teman kita, saudara/i sekomunitas kita, orangtua kita itu selalu sedang berubah bersama dengan waktu yang selalu berubah. Marilah kita belajar berfikir positif sehingga dapat memberi ruang kepada mereka untuk berkembang menjadi pribadi-pribadi yang semakin baik.