Pembunuhan anak-anak di Bethlehem

Pembunuhan anak-anak di Bethlehem

Mateus 2: 13-18

 Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”

Mateus mengisahkan betapa kejamnya Herodes yang membunuh anak-anak dibawah usia 2 tahun. Ia begitu ketakukan kalau suatu saat akan ada orang lain yang mengambil tahta kekuasaannya. Oleh karenanya, ia mengantisipasi dengan menumpas habis bocah-bocah laki-laki yang hidup. Apakah benar dalam sejarah peristiwa ini sungguh terjadi? Sayangnya, tak ada sumber lain yang bisa jadi pembanding kisah Mateus ini. Sejarawan Yosefus yang hidup pada masa ini, dan dia biasa menulis kisah orang Yahudi dalam hubungannya dengan kekaisaran Roma, tak menuliskan apapun soal pembunuhan anak oleh Herodes. Hanya Mateus yang memiliki kisah pembunuhan ini.

Kisah pembantaian anak-anak ini membuka ingatan orang Yahudi akan kekejaman Firaun yang ingin membantai anak-anak orang Ibrani (Keluaran 1: 15-22). Cerita itu mengingatkan kekejaman seorang penguasa yang membantai orang yang tak mampu melindungi diri. Raja Herodes seakan menggambarkan ulang Firaun yang memakai kekuatan mutlak untuk menumpas orang yang tak berdosa.

Dalam kotbahnya, Paul Yohanes Paulus II mengatkan kalau anak-anak yang dibantai itu mereprensetasikan akan kelompok anak atau orang yang tak mampu melindunig diri. Peristiwa domestic abuse yang dialami anak, aborsi, kekerasan yang dialami para pengungsi dan imigran, serta pembunuhan anak-anak di di Syria mengulangi kisah pembantaian Bethlehem.

Hari ini kita mendedikasikan diri untuk mendoakan dan memberi perhatian pada mereka yang lemah dan tak mampu melindungi diri. Semoga mereka menemukan orang-orang baik yang bisa menjadi pelindung dalam perjalanan hidup yang tidak mudah dan penuh kekerasan.

Comments are closed.
Translate »