Blessedness
Blessedness
Lukas 6:20-26
Ketika diminta tanggapan tentang cultural shifts yang terjadi sesudah konsili vatican ke-2, sekelompok imam muda tidak memberi tanggapan. Alasannya bukan karena tidak mau, melainkan karena empat puluh tahun yang lalu mereka belum lahir. (Priests Convocation 2018 di Rancho Mirage, Palm Desert).
Disinyalir bahwa kemajuan massif saat ini dalam mass media atau konektivitas, bukan membawa keterhubungan dan kedekatan melainkan pemisahan dan keterpisahan. Generasi milenial misalnya akan mengatakan irelevan untuk hidup dalam satu dunia tanpa networking: internet, Google, twitter, facebook, wattsapp, seterusnya.
Yesus juga mengajarkan satu gaya hidup yang irelevan, berbeda menurut mata dunia, namun berguna untuk dunia dan semua generasi: detachment, keterpisahan dari dunia. Kendati kita hidup di dalam dunia, namun “bukan berasal dari dunia.”
Seperti kotbah di bukit, orang Kristen harus mampu membedakan diri dari dunia. Membalikkan cara pandang melalui metanioa, yakni transformasi spiritual, perubahan mental, nalar yang dicerahi oleh Injil, untuk masuk dalam visi dan karakter hidup yang dibawa oleh Kristus sendiri.
Ini adalah tanda keterpisahan dari dunia untuk menemukan kebahagiaan sejati, kesatuan dengan Allah dan sesama, yang secara paling radikal termanifestasi di dalam peristiwa salib. Kristus tersalib adalah suatu realitas baru yang lahir, penolakan terhadap dunia, karena persentuhan antara kasih Allah yang menyelamatkan dan ketidakselamatan atau keselamatan palsu yang ditawarkan oleh dunia.
Peristiwa salib adalah God’s invention, original and divine gadget, dimana Allah punya akses kepada manusia dan manusia punya akses dan konektivitas dengan Allah karena kebangkitan Kristus yang melahirkan suatu zaman, milenium baru, hidup baru, budaya baru, generasi baru yang ditandai oleh kasih, damai, keadilan dan keselamatan sejati karena belas kasih Allah sendiri.