Hidup Panggilan: Bukan Hanya Membiara

Hidup Panggilan: Bukan Hanya Membiara

Rabu, 3 Oktober 2018

Ayub 9:1-12
Mazmur 88
Lukas 9:57-62

Salah satu reaksi orang yang sering saya dengar ketika mereka tahu bahwa saya masuk tarekat religius adalah kekaguman. Bayangan mereka mungkin tidak jauh dari bacaan Injil hari ini, di mana orang yang mau ikut Yesus diwanta-wanti bahwa mereka tidak akan punya rumah di mana mereka bisa nyaman meletakkan kepala mereka. Atau kami dianggap berkorban besar karena tidak menikah. Ada juga yang berpikir kalau suster/bruder/romo itu sulit makan, karena itu selalu ada tawaran makan di restoran atau dikirimi makanan. Kami dianggap sudah memilih jalan yang lebih mulia, lebih tinggi, dan lebih berharga dibandingkan jalan yang ditempuh oleh orang awam.

Sejak saya masuk Fransiskan, saya malah berpikir lain. Ada ribuan anggota ordo kami dan ada ratusan rumah Fransiskan di seluruh dunia. Di setiap rumah itu pasti dengan senang hati menyambut sesama Fransiskan kalau kami berkunjung ke sana, jadi saya tidak perlu takut tidak akan ada tempat nyaman untuk beristirahat. Dalam hal makanan, walaupun kami tidak makan secara mewah, kami juga tidak pernah berkekurangan. Kalau melihat teman-teman saya yang menikah dan mempunyai anak, saya merasakan bagaimana mereka juga berkorban meninggalkan gaya hidup bujangan yang lama dan harus berkomitmen menjaga dan membesarkan anak mereka.

Panggilan atau syarat-syarat mengikuti Yesus dalam Injil hari ini bukan hanya ditujukan untuk kami yang hidup membiara. Panggilan itu untuk kita semua. Perkataan bahwa Yesus tidak punya tempat untuk mengistirahatkan kepalanya tidak bisa kita artikan secara harafiah bahwa pengikut Yesus tidak boleh memiliki rumah. Ajakan Yesus lebih menekankan pada sikap kita terhadap harta benda. Mengikuti Yesus berarti tidak menggantungkan hidup kita pada hal duniawi, baik harta, rumah, ataupun status, tetapi siap untuk menyesuaikan hidup kita dengan arahan Roh Kudus.

Panggilan ini bisa datang dalam bentuk tawaran kerja baru atau mungkin untuk pindah ke kota atau negara lain. Tapi kadangkala panggilan ini bisa berupa hal yang tidak enak seperti di-PHK, rumah kemalingan, atau diputuskan pacar. Dalam setiap kejadian, Yesus memanggil dan menantang kita, apakah kita sebegitu tergantungnya pada hal-hal itu? Apakah kita mampu tetap fokus pada Tuhan sumber segala berkat yang sudah kita terima? Seperti Ayub mengingatkan kita hari ini, Allah lah yang membongkar gunung dan menggeser bumi, memerintah matahari dan membentang langit, yang membuat keajaiban-keajaiban yang tidak terbilang jumlahnya. Dibanding segala kebesaran Tuhan itu, apalah artinya sebuah tempat untuk mengistirahatkan kepala kita?

Bagaiman Tuhan memanggil anda hari ini? Dan sudikah kita meninggalkan hal-hal yang tidak perlu atau tidak penting yang menahan kita untuk bisa sepenuh hati mengikuti Yesus?

Comments are closed.
Translate ยป