Keluar!

Keluar!

Kamis, 4 Oktober 2018
Hari Raya Pesta St. Fransiskus dari Asisi

Ayub 19:21-27
Mazmur 27
Lukas 10:1-12

Dikisahkan pada suatu hari Fransiskus pergi ke gereja Santo Nikolas di Asisi, dengan ditemani dua orang temannya, Bernardus Quintavalle dan Petrus Catani. Saat itu Fransiskus berada di tengah-tengah proses pertobatannya. Ia sudah meninggalkan kenyamanan rumah dan hartanya. Ia sudah merasakan dipanggil Tuhan untuk berbuat sesuatu. Tapi dia masih tidak yakin, hidup macam apa yang Tuhan inginkan darinya? Maka Fransiskus bersama kedua temannya itu pergi dan berdoa di dalam gereja. Kemudian ia membuka secara acak buku Injil yang ada di dalam gereja sebanyak tiga kali. Percaya bahwa Tuhan yang menggerakkan tangannya, Fransiskus membuka 3 ayat ini:

Matius 19:21 “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

Matius 16:24 “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

Lukas 9:3 “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju.”

Injil hari ini adalah kelanjutan dari ayat terakhir di atas. Kalau dalam Lukas 9 Yesus mengutus 12 rasulnya, di Lukas 10 Yesus mengutus 72 murid yang lain untuk pergi menyembuhkan orang-orang dan menyebarkan kabar baik Kerajaan Allah. Tetapi misi ini tidaklah mudah. Yesus berkata bahwa mereka akan seperti domba di kawanan serigala. Mereka juga akan merasakan ditolak dan dijauhi orang.

Perintah Yesus tidak hanya perintah untuk 12 dan 72 orang 2000 tahun yang lalu. Perintah Yesus adalah perintah untuk anda dan saya pada masa kini juga. Tidak mudah memang untuk menjalankan misi ini. Santo Fransiskus memahami perintah ini dengan mengajak kawan-kawannya untuk mulai membantu melayani para orang sakit kusta. Saat itu, penderita kusta harus keluar dari kota dan tinggal di luar tembok kota. Bahkan ada ritual Gereja jaman itu di mana si penderita secara resmi dikeluarkan dari komunitas Gereja. Di luar kota Asisi inilah Fransiskus membawa kasih Tuhan kepada mereka yang telah ditinggalkan Gereja dan masyarakat. Akibatnya banyak yang merasa jijik kepadanya, atau menganggapnya orang gila.

Paus Fransiskus menulis dalam dokumen panduan pastoral Evangelii Gaudium: “Saya lebih bersimpati pada Gereja yang memar, terluka dan kotor karena menceburkan diri ke jalan-jalan, ketimbang sebuah Gereja yang sakit lantaran tertutup dan mapan mengurus dirinya sendiri.” Seringkali kita umat Katolik menghabiskan banyak uang, waktu, dan tenaga untuk membangun gereja yang megah atau membentuk kelompok-kelompok untuk berbagi iman dan berdoa. Hal-hal ini memang perlu, tetapi tidak cukup kita hanya berhenti di situ. Jika kita takut untuk keluar dan menyembuhkan orang lain, jika kita hanya mementingkan keselamatan diri atau keluarga, berarti kita mengabaikan misi yang diberikan oleh Yesus sendiri.

Menjelang ajalnya, Santo Fransiskus mengumpulkan para teman dan pengikutnya. Dengan pandangan penuh kasih, ia meninggalkan sebuah pesan: “Aku telah melakukan semua yang harus kuperbuat dalam hidupku, semoga Kristus sekarang menunjukkan pada kalian apa yang harus kalian perbuat dalam hidup masing-masing.” Semoga doa terakhir Fransiskus itu juga menjadi nyata dalam hidup kita. Selamat Hari Raya Pesta Santo Fransiskus dari Asisi!

N.B.: Untuk membaca riwayat hidup singkat Santo Fransiskus, lihat https://ofm.or.id/category/fransiskus-assisi/riwayat-hidup-fransiskus/

Comments are closed.
Translate ยป