Happy Ending
Sabtu, 6 Oktober 2018
Ayub 42:1-3, 5-6, 12-17
Mazmur 119
Lukas 10:17-24
Kisah Ayub akhirnya selesai dengan “happy ending.” Semua kekayaannya kembali, dia dikarunia tujuh anak lagi, dan dia mati dengan damai di umur tuanya. Malahan dikatakan dia dilimpahi lebih banyak harta benda dari yang dimiliki sebelumnya. Ketiga anak perempuannya yang baru juga jauh lebih cantik dari putri-putri pertamanya yang sudah meninggal.
Ketujuhpuluhdua murid yang diutus Yesus juga mempunyai “happy ending” setelah mereka pulang dari misi mereka. Dengan bersemangat dan bangga mereka bercerita pada Yesus bagaimana mereka bisa mengusir setan. Mereka merasakan betyl kuasa dan kekuatan Yesus dalam diri mereka sehingga sampai bisa mengadakan mujizat-mujizat.
Semua dari kita pasti mau punya akhir yang baik dari kisah, rencana, atau hidup kita. Jika kita punya proyek di kantor, pasti mau dapat hasil yang baik supaya bisa dihargai bos. Siapa tahu malah bisa naik gaji atau naik pangkat. Demikian juga dengan hidup berkeluarga. Kita mau bisa punya anak-anak yang sukses dan berhasil.
Dalam menjalankan misi Gereja, terkadang kita juga menggunakan ukuran yang kita pakai di dunia. Berapa banyak orang yang sudah bisa saya ajak masuk gereja? Berapa besar gereja baru yang bisa dibangun dengan dana paroki yang sudah saya kumpulkan? Berapa orang yang sudah bertobat gara-gara doa atau kotbah saya? Sebanyak apa berkat dalam hidup saya karena saya sudah taat menjalankan doa dan kewajiban?
Padahal dalam kedua bacaan hari ini, Ayub tidak pernah memikirkan untuk mendapat berkah melimpah setelah dia tetap setia berdoa pada Tuhan. Dia sudah pasrah untuk menerima apapun yang Tuhan rencanakan padanya. Yesus juga berkata pada muridnya, bahwa kegembiraan mereka bukanlah terutama karena mereka bisa berhasil mengusir setan, melainkan karena nama mereka tercantum di surga. Dengan kata lain, kebahagiaan sejati mereka bukanlah karena keberhasilan dari perbuatan mereka, tetapi karena mereka mempunyai hubungan dengan Tuhan. Allah mengganggap mereka sebagai anak-anaknya dan mengingat nama mereka.
Kadangkala kita kehilangan semangat dalam karya kita menjalankan misi Tuhan karena hasil yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Ada sebuah renungan dalam bahasa Inggris yang sering diberi judul “Prophets of a Future Not Our Own” (Nabi bagi Masa Depan yang Bukan Milik Kita) karya Father Ken Untener. Bagian akhir dari teks itu layak jadi renungan kita juga hari ini:
Misi kita mungkin tidak akan selesai,
tapi ini sebuah permulaan,
selangkah dalam perjalanan kita,
kesempatan bagi rahmat Tuhan untuk masuk dan menyelesaikan semua.
Bisa jadi kita tak akan melihat hasil akhirnya,
tapi inilah bedanya antara sang arsitek agung dan pekerja.
Kita adalah pekerja, bukan sang arsitek,
pelayan, bukan mesias.
Kita adalah nabi untuk masa depan yang bukan milik kita.