Siapakah Engkau? Siapakah aku?

Siapakah Engkau? Siapakah aku?

Jumat, 5 Oktober 2018

Ayub 38:1, 12-21; 40:3-5
Mazmur139
Lukas 10:13-16

Anda masih ingat film Bruce Almighty beberapa tahun lalu? Aktor komedi Jim Carrey berperan sebagai Bruce, seorang yang selalu mengeluh kepada Tuhan. Saat itu hidupnya benar-benar kacau, mulai dari pekerjaan sampai hubungan dengan pacarnya. Kalau Tuhan benar-benar berkuasa (almighty), kenapa selalu saja ada yang tidak beres di dunia ini? Sampai suatu kali Tuhan capek mendengar keluhannya dan memberikan Bruce segala kekuatan ilahi. Syarat dari Tuhan hanya ada dua: dia tidak boleh memberitahu siapa-siapa dia adalah Tuhan, dan dia tidak bisa merubah kehendak bebas orang. Pertama-tama Bruce tentu saja merasa keren dengan kekuatan barunya, terutama untuk membantunya dalam karir dan cinta. Tapi kemudian dia dibebani dengan doa dan permintaan ratusan juta orang di dunia yang membutuhkan bantuannya. Akhirnya Bruce merasa kewalahan dan mengembalikan kekuatannya kepada Tuhan. Dia tidak lagi selalu mengeluh meminta Tuhan memperbaiki hidupnya, melainkan mengubah cara hidupnya sendiri dengan sebisa mungkin membantu orang lain daripada mementingkan diri sendiri.

Bacaan dari Kitab Ayub hari ini kurang lebih sama seperti alur cerita film Bruce Almighty. Setelah berkeluh kesah, akhirnya Ayub dijawab oleh Tuhan. Tuhan balik bertanya kepada Ayub: siapakah yang membentuk bumi, atau memerintah matahari terbit, atau menurunkan hujan? Tuhan mengingatkan Ayub akan segala kuasanya. Dan pada akhirnya, sama seperti Bruce, Ayub pun menyerah. Dia menjawab, “Mulutku akan kututup. Satu kali aku berbicara, tapi tidak akan kuulangi.”

Bruce dan Ayub benar-benar bertobat (dalam bahasa Yunani: metanoia, berubah arah atau pikiran) hanya setelah mereka melihat perspektif yang sejati. Perspektif atau cara pandang yang utuh adalah melihat benar-benar siapa diri kita, siapa Tuhan, dan siapakah kita di hadapan Tuhan. Inilah sumber segala masalah dalam hidup manusia, ketika kita kehilangan perspektif ini. Dosa asal Adam dan Hawa adalah ketika mereka tidak merasa puas dengan jatidiri mereka sebagai manusia dan ingin menjadi seperti Tuhan dengan memakan buah yang terlarang. Kita pun seringkali lupa pada jatidiri kita. Kadang kita merasa punya kuasa yang tak terbatas dan seperti menjadikan kita semacam “tuhan” bagi orang lain. Atau kita mengutamakan kepentingan kita sendiri dan mengabaikan Tuhan atau sesama. Kita merusak lingkungan alam demi kepuasan sendiri, lupa bahwa Tuhan lah yang menciptakan alam semesta dan dia menganggapnya “baik”. Atau bisa juga kita merusak diri sendiri, menganggap diri kita buruk, selalu kekurangan sesuatu dibanding orang lain, dan merasa rendah diri. Padahal, setiap manusia diciptakan Tuhan dengan “sangat baik.”

Salah seorang pengikut awal Santo Fransiskus, Saudara Leo, menceritakan bagaimana Fransiskus sering berdoa, “Siapakah Engkau, Tuhan? Dan siapakah aku ini?” Ia akan mengucapkan ini berkali-berkali dalam kontemplasinya di gua di bukit-bukit dekat Asisi. Hari ini kita bisa berdoa dengan kata-kata yang sama, demi mengingatkan kita pada identitas sejati kita di hadapan Tuhan.

Comments are closed.
Translate ยป